Novel coronavirus atau Covid-19, merupakan nama virus jenis baru yang diberikan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Keberadaannya kini benar-benar menjadi momok bagi banyak negara di dunia, termasuk Indonesia.
Bahkan salah satu badan di
PBB yang mengurusi masalah kesehatan itu, menetapkannya sebagai pandemi atau
penyebarannya yang sangat luas. Hingga Selasa (24/3), sudah tersebar di 189
negara, termasuk Indonesia. Tiga negara terakhir yang juga dilanda penyebaran
virus korona, Suriah Granada dan Mozambik.
Namun pernahkah
terpikirkan kenapa virus berbahaya asal Provinsi Wuhan, Tiongkok tersebut,
diberi nama virus korona?
Menurut lembaga kesehatan
Amerika Serikat, The Centers for Disease
Control and Prevention (CDC), nama korona berasal dari bahasa Latin yang
berarti mahkota.
Ini karena adanya semacam
duri berbentuk seperti mahkota menyelimuti permukaan virus itu. Sehingga
menjadi alasan kenapa diberi nama korona, sebut CDC seperti dilansir
laman IB Times, Selasa (24/3).
Lebih jauh lagi CDC
menjelaskan, Covid-19 merupakan keluarga besar virus dengan gejala yang
menyerupai pilek atau flu. Mulai dari batuk, demam, gangguan tenggorokan, atau
hidung meler.
Dalam beberapa kasus,
gejala virus korona bisa langsung berubah layaknya penyakit serius, seperti
radang paru-paru alias pneumonia.
Sementara untuk embel-embel angka 19 pada
Covid-19, disematkan sebagai keterangan untuk tipe baru virus korona, mengingat
virus korona sudah ada sedari dulu.
Jenis lainnya, ada Acute Respiratory Syndrome atau SARS dan
Middle East Respiratory Syndrome atau
MERS-CoV. Menariknya, ada kesamaan dan keterkaitan antara Covid-19 dan SARS.
Pasalnya, kedua virus ini
berasal dari Cina. Jika Covid-19 baru diidentifikasi dari Wuhan pada November
tahun lalu, kemunculan pertama SARS juga terjadi di China pada November 2002
sampai Juli 2003.
Saat itu terdapat sekitar
8.000-an orang terinfeksi, dan 774 di antaranya meninggal dunia. Penyebaran
SARS sendiri cukup luas, karena mencapai 189 negara.
Sedangkan untuk MERS,
pertama kali terdeteksi di Arab Saudi pada 2012, dan sejak itu menyebar ke
beberapa negara. Para penderita virus ini mengalami sakit pernapasan yang cukup
parah dan berpotensi meninggal dunia. (yb: berbagai sumber)