JAKARTA, banuapost.co.id– Industri kesehatan Indonesia memang sengaja dikerdilkan mafia, baik skala global maupun lokal. Sehingga selama ini tidak mandiri dalam health security tersebut.
“Terbukti, Indonesia itu berat di urusan-urusan kesehatan dan alat kesehatan. Obat-obatan saja hampir 90 persen bahannya dari impor,” ujar Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, Jumat (17/4).
Mengenai mafia alat-alat kesehatan dan bahan-bahan kesehatan, sambung Arya, jauh-jauh hari ketika Erick Thohir dilantik jadi Menteri BUMN, sudah punya gambaran besar mengenai keamanan energi, pangan, dan kesehatan.
Akibat kondisi demikian, Erick Thohir membentuk sub-holding farmasi agar dapat membendung ancaman terhadap bangsa saat terjadi sesuatu.
“Setelah dibentuk sub-holding farmasi, ide ini disampaikan juga ke presiden. Pak Jokowi melihat itu sebagai sesuatu yang harus dijaga. Makanya proses penanganan masalah kesehatan, farmasi tepatnya, dipercepat,” kata Arya.
Sub-holding BUMN farmasi, lanjut Arya, terdiri dari Bio Farma, Kimia Farma dan Indofarma, dengan Bio Farma sebagai induknya.
Selama ini, menurut Arya, pengusaha asing membawa bahan baku alat kesehatan, seperti APD dan masker, untuk diproduksi di Indonesia. Setelah selesai, barang itu diambil pengusahanya.
“Itu proses yang terjadi selama ini, dan kita akhirnya impor juga barang tersebut. Pabriknya ada, tapi bahan baku dari luar semua. Indonesia hanya tukang jahitnya doang,” tandas pemilik nama lengkap Arya Mahendra Sinulingga itu.
Begitupun dengan alat bantu pernapasan atau ventilator yang hingga saat ini masih harus impor. Ternyata dalam tempo sebulan perguruan tinggi bisa membuatnya
Meski ventilatornya bukan untuk pasien yang masuk ICU. Tapi dari litbang, mampu membuat ventilator untuk pasien di ruang ICU yang sudah parah.
“Artinya, bangsa kita mampu membuat dan Kementerian BUMN telah menugaskan PT Len Industri (Persero), PT Pindad (Persero), dan PT Dirgantara Indonesia/PTDI (Persero) untuk memproduksi ventilator,” pungkas Arya.
Menurut Arya, selama ini bangsa Indonesia terlalu sibuk dengan perdagangan. Tidak berusaha membangun industri, salah satunya kesehatan.
“Nah korona jadi ujian dan membuka mata kita semua. Selama ini kita trading saja, tanpa membangun,” imbuhnya. (yb/*/foto: ist)