BANJARMASIN, banuapost.co.id– Kota Banjarmasin, satu di antara 13 kabupaten – kota di Provinsi Kalimantan Selatan, jadi kampiun sementara jumlah kasus virus mahkota (corona dalam Bahasa Latin: mahkota, Red.)
Pasalnya hingga Minggu (17/5), sebagaimana data Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (TGTP2) Covid-19 Kalsel, dari 404 kasus positif, 165 di antaranya andil penghuni kota ‘Seribu Sungai’ ini.
Berdasarkan jumlah itu, sebanyak 112 pasien positif dalam perawatan di sejumlah rumah sakit dan karantina khusus. Kemudian 19 orang sembuh, dan 34 Inna Lillahi.
Padahal sejak diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga memasuki episode kedua, kasus terkonfirmasi positif bukannya melandai atau berkurang. Tapi sebaliknya bertambah, bahkan terindikasi kian bangat.
Kondisi ini terlihat dari data tracing dan tracking diawal rapid test. Seperti rapid test massal di enam pasar di Kota Banjarmasin, beberapa hari lalu. Dari 1.361 orang yang dirapid test itu, 129 hasilnya reaktif.
Hasil ini ini tak urung membuat terkehut ahli epidemiologi, dr IBG Dharma Putra. “Artinya rapid test itu memberi hasil 10 persen reaktif,” kata Dharma, Minggu (17/5).
Dengan angka 10 persen, lanjut Direktur RDJ Sambang Lihum itu, jika dihitung secara kasar dengan empat ketidakpatuhan menghindari kerumunan, penggunaan masker, jaga jarak dan cuci tangan.
Namun jika hanya disandingkan dengan tiga ketidakpatuhan, menurut dr Dharma, misalnya ketidakpatuhan menghindari kerumunan hanya terjadi di pasar, maka dengan tiga ketidakpatuhan lainnya merata di seluruh wilayah, akan muncul angkanya 7,5 persen reaktif berdasarkan perhitungan kasar.
“Jika angka reaktif 7,5 persen tersebut dihitung pada total populasi Kota Banjarmasin sebesar 700 ribu penduduk, maka jumlahnya 52.500 orang,” jelas dr Dharma.
Bika semua penduduk reaktif tersebut mengikuti pemeriksaan swab, lanjut dr Dharma, diprediksi sebesar 40 persennya terkonfirmasi positif. Atau 21 ribu orang di Kota Banjarmasin.
Jika 21 ribu orang terkonfirmasi positif tersebut didudukan secara emperis, maka 25 persennya bergejala. Artinya akan ditemukan 5.250 orang sakit Covid-19. Sisanya sebesar 75 persen, tidak bergejala atau 15.750 orang tanpa gejala (OTG).
“Bisa dibayangkan dengan muulnya akan kepatuhan seperti saat ini, berpotensi untuk penemuan masalah yang sangat besar. Yaitu 15.750 OTG yang perlu diisolasi, 5.250 orang sakit covid yang perlu opname dan ada 420 orang di Banjarmasin yang dikhawatirkan meninggal dunia karena Covid 19,” papar dr Dharma.
Karena itu, dr Dharma mengajak seluruh masyarakat, mematuhi imbauan pemerintah untuk memutus mata rantai penularan virus korona.
Caranya, disiplin tetap di rumah. Bila terpaksa keluar rumah untuk urusan yang mendesak dan penting, harus menggunakan masker. Menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta rajin cuci tangan dengan sabun atau hand sanitazer.
“Dengan disiplin mematuhi imbauan itu, Covid-19 segera tuntas dan pertumbuhan ekonomi kembali pulih. Namun jika tidak patuh alias muul, maka kesakitan, kematian dan kemiskinan, sudah siap menghampiri kita,” ujar dr Dharma mengingatkan. (emy/foto: deny yunus)