BANJARMASIN, banuapost.co.id– Ada satu hal yang terpaksa menghilang untuk sementara akibat pandemi virus korona. Keleluasaan untuk berkumpul dan bertatap muka, aktivitas di luar rumah harus dibatasi demi mencegah penyebaran virus yang makin meluas.
Mau tak mau, konsep bisnis kuliner khususnya coffe shop yang tren di kalangan anak muda pun, harus berganti arah. Menggantikan lenyapnya elemen kebersamaan tatap muka selama pandemi. Terlebih kebiasaan para konsumen juga turut berubah, ketika mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam diri di rumah.
Kendati demikian, pada industri kopi sendiri seolah melakukan invoasi termasuk dari cara jual dan program kerja mereka. Pasalnya sebelum terjadinya pandemi, coffee shop menjadi sebuah third space atau tempat ketiga di antara rumah dan kantor.
Apalagi mereka tak hanya menawarkan produk minuman, namun juga experience berupa interaksi dan suasana. Tentu di tengah situasi sekarang, justru menjadi hambatan bagi pebisnis kopi.
Lantas bagaimana mengatasinya ditengah pandemi ini?
Menurut barista (pekerja kopi) Novia Cesar, secara general industri food & beverage sedang mengalami krisis. Apalagi di daerah yang penyebarannya tinggi, tentu ini sangat memberikan dampak besar.
”Sebagai seorang pekerja di industri kopi, tentu di tengah wabah seperti ini sangat berdampak. Namun kita sebagai pekerja, tentu tak mau menyerah dengan situasi pandemi. Kita juga memikirkan cara dan strategi ampuh agar konsumen tetap bisa menikmati jualan kita,” katanya.
Permpuan berusia 23 tersebut menuturkan, saat ini dirinya bersama tim kerja sudah menerapkan program jualan package atau paket kopi untuk para konsumen agar bisa lebih mudah untuk dinikmati di rumah.
Tak hanya itu, harga untuk beberapa item menu kopi juga diturunkan demi menyesuaikan ekonomi yang saat ini sedang mengalami grafik penurunan.
Selain itu, melakukan promosi melalui media sosial juga menjadi cara utama untuk memasarkan produk agar bisa tetap survive atau bertahan.
”Kita sangat gencar melakukan promosi melalui sosial media. Karena bagaimana pun, ini menjadi sarana kami untuk tetap menyuguhkan menu dan item baru untuk bisa diperkenalkan dan dinikmati konsumen,” pungkasnya.
Sejauh ini, barista berhijab kelahiran Banjarbaru yang menekuni dunia kopi dari 2017 hingga sekarang, tetap menjalani aktivitas bekerja rutinya di sebuah coffe shop ternama yang ada di Samarinda, Kalimantan Timur.
Ia pun berharap pasca pandemi Covid-19, industri kopi bisa kembali normal ”Mudah-mudahan pandemi ini bisa cepat berlalu. Sehingga penjualan bisa normal kembali dan konsumen juga bisa menikmati waktu santai mereka dengan bertatap muka dan mengisi waktu luang sambil menikmati kopi dengan cita rasa khasnya,” tutupnya. (emy/foto: ist)