KOTABARU, banuapost.co.id– Pertama kali menginjakan kaki di Lapas Klas II Kotabaru, sudah disambut bau.
Pengalaman tidak enak seperti inilah yang diceritakan Kalapas Hidayat ketika menggelar coffee morning dengan awak media di Kotabaru, Kamis (23/7).
“Permasalahan yang saya temui pertama kali datang ke Lapas Kotabaru, bau yang saya temui. Tapi kami mencoba meminimalisirnya dengan membuatkan resapan,” jelas Hidayat yang baru satu bulan menjabat sebagai Kalapas Klas II Kotabaru itu.
Selain persoalan bau, lanjut pria kelahiran Pulau Sumatera yang sebelum menjabat di Lapas Pagar Alam, Nusa Kambangan, masalah kapasitas.
Pasalnya, Lapas kapasitasnya hanya untuk sekitar 287 orang. Tapi yang terjadi, dihuni sekitar 940 orang.
“Tentu beberapa persoalan baru muncul. Misal warga binaan tidur ada yang bergelantungan. Namun sekarang tidak ada, karena kami sudah buatkan dipan-dipan,” ujarnya.
Sementara terobosan baru agar warga binaan nyaman, dengan membangun human monitoring agar terjadi komunikasi dua arah.
“Kami juga membuat kotak surat saran di depan tiap ruang tahanan. Jadi ada hal yang ingin diutarakan warga binaan, bisa disampaikan lewat kotak surat itu,” tuturnya.
Selain itu, sambung Hidayat, pihak lapas juga menjalin kerja sama dengan pihak ketiga, seperti BLK untuk pelatihan hidroponik guna memberikan keterampilan dan kemandirian.
“Karena itu, saya juga meminta dukungan peran media dalam semua kegiatan. Sebab Lapas Kotabaru tengah menanamkan motto: Beriman, Beradap, Bersi, Ramah, Indah, Manusiawi, Bahagia. dan Produktif,” pungkasnya. (her/foto: ist)