MARTAPURA, banuapost.co.id– Sebanyak 40-an anak usia dini korban banjir di Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, larut dalam keceriaan. Mereka terlibat dalam kegiatan trauma healing yang digagas Balai Bahasa Prov Kalimantan Selatan bekerja sama dengan komunitas literasi, Kamis (18/2).
Dua hari berturut-turut sejak Rabu (16/2), anak anak berusia antara 5 hingga 8 tahun di wilayah terdampak banjir ini, mendapat pendampingan pemulihan psikologis. Oleh personel fasilitator dan komunitas literasi, mereka diajak bermain sambil belajar.
Seperti diketahui, Kecamatan Astambul merupakan wilayah di Kabupaten Banjar yang mengalami dampak banjir terparah. Di wilayah ini debit air hingga mencapai sedada orang dewasa. Sehingga sejumlah infrastruktur rusak parah, termasuk fasilitas lembaga pendidikan.
Menurut Kasubag TU Balai Bahasa Kalsel, Mangara Siagian Siregar, kegiatan trauma healing ini merupakan implementasi program praktik, baik berliterasis bagi kaum muda yang dilaksanakan serentak se Indonesia.
“Namun karena sebagian besar daerah di Kalsel saat ini sedang terdampak banjir, program ini kami adaptasi ke dalam bentuk trauma healing untuk membantu anak-anak korban banjir, tanpa mengubah esensi kegiatan literasi,” jelas Mangara saat pembukaan kegiatan di Aula SDN Astambul Kota.
Kegiatan ini bertujuan memberikan keceriaan kepada anak-anak korban banjir, sekaligus menanamkan kegemaran berliterasi. Karena itulah, sengaja menggandeng fasilitator literasi dan komunitas literasi untuk terlibat dalam kegiatan, mengemas kegiatan bermain sambil belajar.
Kegiatan serupa, menurut Mangara, juga telah dilaksanakan sepekan sebelumnya di Kecamatan Pangaron, Kabupaten banjar.
“Dua pekan ke depan, secara berturut turut akan kami adakan di Kota Barabai dan Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah,” imbuhnya
Salah satu personel fasilitator literasi, Mia Ismed, mengatakan, kegiatan ini harus dapat membantu anak menghilangkan perasaan cemas pascabanjir. Hal ini penting, agar anak tidak larut dalam kesedihan dan perasaan takut.
“Dengan model-model kegiatan pembelajaran yang kami kemas dalam permainan, diharapkan dapat menumbuhkan kembali semangat mereka untuk belajar,” jelas mia.
Mia khawatir jika pemulihan psikologis pascabanjir tidak segera diantisipasi, dapat berakibat buruk. Terlebih saat ini masa pandemi, di mana tidak dimungkinkan bagi anak untuk melakukan aktivitas interaksi dan belajar di sekolah.
“Jika anak-anak hanya tinggal diam di rumah tanpa bermain, itu bahaya bagi perkembangan psikologinya. Apalagi saat ini pandemi ini, anak hanya belajar di rumah tanpa pendampingan dan interaksi denga guru dan teman-teman sebaya,“ tandas Mia yang juga merupakan tenaga pendidik.
Dalam kegiatan ini, selain mendapatkan pendampingan trauma healing, anak-anak peserta juga mendapatkan sejumlah bingkisan dari Balai Bahasa Kalsel. Kegiatan yang berlangsung di Kecamatan Astambul ini, juga melibatkan kerja sama dari komunitas Literasi Bestari, Komunitas Pegiat Gambar (Kopi Ambar) dan Lingkar Pena Banjarbaru dan Komunitas Teh. (uza/foto: bzak)