Tindak kejahatan yang disertai dengan pemerkosaan kembali terjadi. Para pelakunya tak memandang status sosial korban yang diperkosanya, baik tua maupun muda. Semuanya bisa menjadi korban.
Aksi kejahatan jenis ini, banyak yang menginginkan pelakunya dihukum berat. Alasannya selain hukuman yang diberikan belum setimpal, juga karena derita yang ditimbulkan umumnya harus ditanggung korban secara berkepanjangan.
Pemerkosaan merupakan salah satu bentuk dari kekerasan seksual. Karena itu, senantiasa menjadi peristiwa sangat mengerikan bagi kaum perempuan.
Di dalam konsep kebudayaan modern, akal budi diyakini sebagai potensi yang hampir total dimiliki laki laki. Karenanya wajar kalau laki laki sebagaimana terlihat dalam sejarah, menganggap dirinya sebagai sosok yang ‘pintar’ dan heroik dalam setiap unsur kehidupan.
Khusus dalam aksi pemerkosan ini, yang menjadi fokus persoalan, ialah mengapa kekerasan seksual seolah olah sudah menjadi suatu kasus yang niscaya dalam sejarah? Tidak dapat dipungkiri, suka atau tidak suka, hal seperti itu bisa saja terjadi pada siapa pun, oleh siapa pun dengan tak mengenal kelas.
Rasanya sudah banyak para pakar menjawab persoalan itu, baik dalam bentuk ilmiah maupun dalam gaya populer mengenai ‘penyakit’ agresivitas laki laki. Suatu anggapan yang kontroversial dari berbagai pengenalan itu ialah, kasus perkosaan tidak lain adalah efek dari praktek budaya patriarki.
Logika yang begitu mencolok dari budaya patriarki, mensahkan pandangan seksisme dalam segala hal. Status perempuan selalu bagai hamba bagi keheroikan moral laki laki.
Keheroikan laki laki, sering dipertunjukkan secara gamblang, seperti misalnya ketika pemerkosa itu melakukan aksinya. Mereka tidak memandang usia dan status sosial korbannya. Bagi pelaku, yang dipentingkan adalah kepuasan semata.
Filsuf Jerman, Fredrick Nietszche, membagi dua jenis moral yang berlaku dalam sejarah, yakni moral hamba dan moral tuan.
Moral hamba, dicirikan Fredrick sebagai mereka dengan sikap yang selalu menyerah, tulus, jujur, sabar, lugu dan sejenisnya. Sehingga tidak cocok dengan kondisi hidup yang keras. Jika disepadankan dengan ajaran Darwin tentang evolusi alamiah, maka mereka yang kuat itulah yang akan menang. Mereka yang bermoral hamba akan tersisih karena memang tidak layak eksis.
Moral tuan, menurut Fredrick, menunjukkan sikap menaklukkan dan berkuasa yang cocok dengan kehidupan yang serba keras, sebagaimana dalam evolusi alamiah tersebut.
Pada moral tuan, manusia mau tidak mau harus menjadi raja atas dirinya sendiri, apapun caranya kalau ia menjadi objek kekuasaan orang lain. Moral semacam ini agaknya nampak pada moral laki laki di mana perempuan dijadikan ‘hamba’ baginya.
Oleh karena itu, bukanlah hal mengada ada jika laki laki dianggap sebagai konstruksi kekerasan seksual yang secara hukum tidak begitu memberatkannya jika melakukan pemerkosaan.
Persepsi masyarakat terhadap perempuan dalam hal ini, ujar Fredrick, tidak lain hanyalah objek seksual. Karena kapasitas moralnya, maka ia menjadi sasaran dari sifat agresif sesksualitas laki laki. (yebe/aktivis media)