PELAIHARI, Banuapost.co.id- Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Tanah Laut (Tala), Hj Dian Rahmat Trianto, mengatakan pentingnya pemahaman pola konsumsi pangan Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) di tengah menjamurnya makanan olahan dan jajanan instan.
Hal ini disampaikan Ketua TP PKK saat menjadi narasumber pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kader Pangan B2SA Tahun 2026 yang digelar di Aula Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Tala, Rabu (13/5/2026).
Dian menjelaskan, konsep lama “4 Sehat 5 Sempurna” kini dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat modern.
“Sekarang diperlukan pengetahuan lebih tentang makanan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman. Tidak hanya enak dilihat dan dirasa, tetapi juga aman dikonsumsi,” ujarnya.
Ia mengingatkan masyarakat, khususnya para ibu sebagai tiang keluarga, agar lebih teliti memilih bahan pangan. Menurutnya, bahan makanan yang dijual di pasaran belum tentu aman apabila proses produksi hingga kandungan zat kimianya tidak diketahui secara jelas.
Ketua TP PKK menuturkan bahwa pangan beragam berarti mengonsumsi berbagai jenis makanan baik hewani maupun nabati agar kebutuhan gizi tubuh terpenuhi sesuai usia dan aktivitas masing-masing individu, mulai dari bayi, balita, remaja, dewasa hingga lansia.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya keseimbangan gizi, seperti kecukupan protein, vitamin, mineral, dan karbohidrat sesuai kebutuhan tubuh. Menurutnya, konsumsi berlebihan terhadap zat tertentu justru dapat memicu penyakit.
“Apa yang kita inginkan belum tentu yang dibutuhkan tubuh. Jangan hanya makan kenyang, tetapi harus memperhatikan nilai gizinya,” jelasnya.
Dirinya juga menginginkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap makanan kemasan dan produk impor yang belum tentu diketahui kandungan gizinya secara jelas.
Tak hanya itu, Ia turut mengajak para ibu rumah tangga agar lebih kreatif memanfaatkan bahan pangan lokal sebagai menu keluarga, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap nasi dengan alternatif pangan lain seperti singkong, ubi, maupun jagung.
“Kita harus memanfaatkan potensi dan kearifan lokal. Tidak perlu mahal, tetapi bagaimana kita kreatif mengolah makanan menjadi beragam, bergizi, seimbang, dan aman,” katanya. (Zkl/foto: prokopimtala)