AMUNTAI, banuapost.co.id–
Bencama tanah longsor yang terjadi di beberapa desa Kecamatan Haur Gading, hingga
terputusnya jalur transportasi, ditinjau Bupati HSU, Drs. H Abdul Wahid HK,
Rabu (25/9).
Beserta rombongan, mantan jurnalis sebuah
media besar di Kalsel ini, harus berjalan kaki. Karena medan yang dilalui
berada di pinggiran sungai dan tidak bisa dimasuki kendaraan, termasuk roda
dua.
Setelah melihat langsung kondisi tanah longsor
tersebut, langkah pemerintah pun dilakukan.
Tidak boleh lagi mendirikan bangunan di tepi sungai.
“Pendirian bangunan di tepian sungai sangatlah
berbahaya. Karena itu tidak dianjurkan bagi masyarakat,” tegas Awa, panggilan familiar
Bupati HSU itu.
Sebagai langkah antisipasi bencana longsor,
lanjut bupati, diharapkan kepada kepala desa
sesegeranya merelokasi bangunan warganya ke tempat yang lebih baik, khususnya
bagi warga yang bertempat tinggal di daerah rawan longsor.
Sementara titik longsor yang dipantau bupati
dan rombongan, di antaranya, Desa Teluk Haur, Desa Waringin dan Desa Pulantani.
Tak ditampik Bupati Awa, peninjauan ini
bertujuan untuk mempercepat proses penanganan jalan yang longsor agar akses
transportasi masyarakat tidak terganggu.
Selain itu, akses jalan yang tampak begitu
parah di Desa Pulantani dan Desa Waringin ,akan segera diupayakan perbaikannya
dalam waktu segera.
“Saya telah berkoordinasi dengan pihak BPBD
dan Dinas PUPRP Kabupaten Hulu Sungai Utara untuk penanganan secepatnya,”
imbuhnya.
Bencana longsor yang menutup akses jalan, membuat
aktivitas warga lumpuh. Karena kondisi jalan sangat memprihatinkan, bahkan
tidak bisa dilewati dengan kendaraan roda dua. (*/yb/foto: ist)
