SAMPIT, banuapost.co.id– Maling yang ada di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), tampaknya bukan sembarang begal bin tangan panjang. Bagaimana tidak. Prinsip meleng alias lengah dikit embat, terlebih bernilai lebih,
dimanfaatkan betul dalam tiap kali melancarkan aksi.
Karena itu jangan heran, lantai jembatan pun jadi sasaran. Apalagi tempat berpijak lalu lalang warga harganya bernilai, kayu ulin.
Begtulah kondisi lantai jembatan Jl Usaha Tani di Desa Samuda Besar, Sampit, Kotim, yang nyaris ludes gara-gara digondol maling.
Dketahuinya lantai jembatan wilayah pertanian warga
masyarakat Samuda Besar itu raib, saat petani mau kelahan mereka.
“Pagi sekitar pukul 06:00 WIB, Juhran, salah seorang
petani mau kelahannya. Namun sesampai di jembatan dia kaget karena lantainya
banyak yang hilang,” ujar Pj Kades Ardianto, kemarin.
Jembatan yang dibangun sekitar sepuluh tahun lalu itu, lanjut Ardianto, merupakan jembatan dari Dinas
Pertanian Kotim.
Jembatan yang memiliki panjang kurang lebih 10 meter dan
lebar 4 meter, jadi penghubung ke beberapa desa tetangga Kecamatan MHS.
“Lantai kayu ulin yang digasak pencuri itu ukuran 3
x 20 Cm x 4 meter sebanyak 30 keping, serta gelagar 5 x10 Cm x 4 meter sebanyak
5 potong,” jelas Ardianto yang juga menjabat Kasi Pemerintahan di Kecamatan MHS
itu.
Soal hilangnya lantai jembatan diakui Ardianto, sudah
dilaporkan ke kantor polisi setempat. “Kita laporkan secara tertulis. Kini
sudah dalam Polsek Jaya Karya,” tandasnya.
Tak ditampik Ardianto, kejadian serupa juga pernah
sekitar tujuh bulan lalu atau Maret 2019 menimpa jembatan Samuda Besar, Jl Mad Said RT 01 dan
Jl H Umar RT06, ukuran 2 x 20 Cm x 2 meter sebanyak 50 keping menuju Kubah
Keramat Syech Abu Hamid Al Alimul -Alamah Mukti Syech Muhammad As’ad atau Datu
Kelampaian Al Banjari.
”Hingga sekarang ini kasusnya tidak pernah terungkap,” imbub Ardianto. (urd/fot: ist)
