KOTABARU, banuapost.co.id– Jabatan Kepala Bagian Operasional (Kabagops) dimana pun kantor atau markasnya, harus memiliki hubungan harmonis dengan awak media.
Karena dengan harmonisasi itulah, keberhasilan tugas
polisi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, sebagaimana tersurat di bagian
judul: Menimbang pada UU No: 2/2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia, akan diketahui khalayak melalui pemberitaan.
Rupanya soal kebanggaan akan keberhasilan untuk diketahui
khalayak inilah yang tidak dimiliki alias tidak lekat dalam diri seorang AKP
Charles Tampubolon, seorang perwira yang menyandang gelar Sarjana Ilmu Kepolisian,
yang kebetulan menjabat sebagai Kabagops Polres Kotabaru.
Pasalnya. Tidak ada guntur atau petir, bahkan hujan, sang
kabaops memperlihatkan perlakuan kurang mengenakan terhadap seorang wartawan
sebuah harian terkemuka di Kalsel, saat berada di ruang tunggu sang komandan, Kapolres
Kotabaru, Rabu (27/11)
Wartawan yang bertugas di Kotabaru itu, dibentak di
hadapan tamu sang kapolres. Padahal sudah menunggu hampir kisaran tiga jam
untuk konfirmasi sebuah berita.
Gara-garanya bukan karena kaki diangkat dan ditaruh di
atas meja tamu. Atau tiduran dikursi sofa ruang tunggu itu. Tapi karena duduk seperti
bersila sebelah kaki. Satu kaki di bawah dan satunya menyilang ke kanan. Namun
masih di bawah sofa, hampir sejajar dengan tempat duduk.
Saat duduk seperti itu, melintas sang kabagops yang
langsung mendatangi dan membentak. “Hei kamu, kenapa dudukmu kayak gitu,
ngangkat kaki.”
Ditegur demikian, si wartawan pun langsung meluruskan
kakinya. Sementara sang kabagops, juga menegur ajudan kapolres yang berjaga di ruang
tunggu.
Rupanya masih belum puas atau mungkin tengah sakit ‘gigi’
AKP Charles kembali membentak si wartawan. “Jangan belagu kamu disini ya.
Kenapa liat-liat saya kaya gitu. Ngak terima kah kamu hah, ngak terima kah, ngak
terima,” ucapnya dengan nada tinggi dengan tatapan tajam ke sang wartawan.
Tak sampai dengan bentakan, sang kabagops juga minta
ajudan kapolres agar tidak memperkenankan si wartawan itu masuk ke ruang
kapolres.
“Apa melotot liat-liat, ngak terima?,” kata
sang kabaops sembari berlalu meninggalkan ruang tunggu, disaksikan sejumlah
tamu kapolres.
Atas perlakuan yang tak terpuji itu, Yayat, sapaan akrab
si wartawan, mengaku sangat menyayangkan. “Apa tidak bisa ditegur
baik-baik. Polisi kok seperti itu main bentak. Bukannya menegur baik-baik. Ini
malah pakai nada keras dan melotot dan sebut wartawan belagu,” ucapnya.
Menurut Yayat, perlakuan tidak senonoh perwira polisi di
Mapolres Kotabaru, bukan sekali ini saja dialaminya.
Sebelumnya, kata wartawan yang dipindahtugaskan dari
Tanah Bumbu itu, kisaran Januari lalu. Ketika ingin berkenalan dengan kabagops
untuk membangun hubungan kemitraan berkaitan dengan kegiatan operasi di Polres
Kotabaru.
Namun ketika pintu diketuk agar dipersilakan masuk, sang
kabagops sempat membuka pintu. Tapi setelah mendengar tujuan kedatangan, justru
kembali menutup. Alasannya, sedang sibuk.
“Pertama saat kenalan di Januari, malah tidak
diterima dan kemudian memanggil anak buahnya untuk memberikan amplop. Lah ini
apa, saya kan mau kenalan bukan minta duit,” ujar Yayat.
Sekarang, sambung Yayat, di ruang tunggu kapolres. “Tapi
kita lihat ke depan. Kita ini kan mitra, bukan musuh. Kalau dianggap musuh, ya
kita ladeni,” pungkas Yayat.
Sementara Kpolres Kotabaru, AKBP Andi Adnan Syafrudin, yang
diminta komentarnya, menduga hanya terjadi mis komunikasi.
“Nanti kita perbaiki. Insya Allah, ada solusinya,” kata
kapolres. (her/foto: heri)
