JAKARTA, banuapost.co.id– Bencana banjir yang terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan, dikaitkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Agil Siradj, dengan aktivitas pertambangan. Karena itu diminta tidak menambang semaunya.
“Tidak seenaknya menambang, tidak semaunya sendiri menambang. Ini akibatnya banjir di Kalimantan Selatan karena di sana tanahnya sudah menjadi danau-danau, merusak ekosistem bumi,” kata Said Agil pada peringatan Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-95, Ahad (31/1).
Begitupun di penjuru Indonesia, sambung Said Agil, sebagaimana dilansir dari otonominews.co.id, juga disebabkan campur tangan manusia.
“Kalau kebenaran dikalahkan dengan hawa nafsu, maka hancurlah kehidupan di bumi maupun di langit. Luar biasa itu. Itu warning dari Allah,” imbuhnya.
Menurut Said, peringatan Harlah NU tahun ini menjadi yang terberat. Karena dilaksanakan bersamaan dengan bencana non-alam Covid-19, serta bencana alam seperti banjir dan gempa bumi.
Untuk itu, berbagai macam peristiwa bencana yang terjadi di awal 2021 ini, dapat dijadikan sebagai sarana perenungan untuk bertaubat.
Nasionalisme religius, menurut Said Agil, merupakan jangkar untuk mengatasi berbagai potensi disintegrasi akibat SARA dan kesenjangan ekonomi. Terlebih di masa pandemi Covid-19 yang berdampak kepada krisis ekonomi dan kesehatan.
Atas nama NU, Said berharap seluruh komponen bangsa bisa gotong royong mengatasi pandemi dengan cara bahu-membahu menyokong kaum miskin dan papa yang paling terdampak secara ekonomi, serta berhenti mengoyak persatuan dengan narasi kebencian, hoaks, fitnah dan tuduhan tersembunyi (insinuasi).
“NU berharap masyarakat bijak dengan menggunakan media sosial sebagai instrumen merajut silaturahim, menganyam persatuan dan alat menyebarkan kebaikan dengan ilmu dan informasi yang bermanfaat. Saring sebelum sharing, posting yang penting,” imbaunya.
Seperti diberitakan, banjir yang menerjang 10 kabupaten/kota di Kalsel di awal 2021 ini, menewaskan 21 orang dan membuat 63 ribu warga mengungsi. (yb/foto: ist)