Kyai, ulama, dan cendekiawan muslim, menjadi figur fenomenal dalam panggung politik setelah Orde Baru tumbang. Ada yang ‘malu-malu’ ikut berpolitik, sementara sebagian lainnya mendirikan parpol baru atau gabung dengan parpol lama.
KH Zaenudin MZ, misalnya, kembali ke PPP, meski akhirnya mendirikan PBR. Gus Dur dengan PKB-nya. Hasyim Muzadi dan Shalahudin Wahid sebagai cawapres pilpres 2004.
Di Pemilu 1999, lebih dari lima belas partai politik baru tercatat di KPU yang didirikan kyai, ulama, atau cendekiawan muslim. Namun PKB lah yang menarik perhatian.
Meski secara nasional hanya memperoleh 11 persen suara, PKB dapat mengantarkan Gus Dur menjadi Presiden RI ke-empat, walau hanya bertahan delapan belas bulan setelah dilengserkan melalui Sidang Istimewa pada 2001.
Fenomena ini menjadi babak tersendiri bagi para kyai. Selama ini kyai identik sebagai pemangku masjid dan madrasah, pengajar dan pendidik, serta ahli. Tiba-tiba harus beralih profesi menjadi kelompok intelektual organik.
Keterlibatan kyai dalam politik memiliki alasan tersendiri. Karena ajaran Islam tidak hanya melingkupi aspek ritual dan moral. Tetapi juga pada nilai-nilai semua sisi kehidupan, baik dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, hukum, sosial, maupun persoalan politik.
Dalam politik di Idonesia, kiprah kyai sudah sejak lama. Paling tidak sejak zaman Kesultanan Mataram II di Jawa. Demikian juga pada masa penjajahan Belanda, kyai mempunyai peranan penting dalam perjuangan Hizbullah dan Sabilillah, dimana pesantren menjadi tempat pelatihan para pejuang.
Begitupun ketika Indonesia memasuki masa kemerdekaan, para kyai juga turut serta dalam perumusan ideologi negara. KH Wachid Hasyim mewakili umat Islam dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan panitia sembilan (9).
Tidak dapat dipungkiri, kyai sebagai elit agama memiliki pengikut dan pengaruh yang begitu luas di tengah-tengah masyarakat. Sehingga menjadikannya terlibat dalam persoalan pengambilan keputusan bersama, kepemimpinan, dan penyelesaian problematika sosial.
Itu doeloe! Nah dalam panggung politik sekarang ini ada kesan ‘memalukan’. Bagaimana tidak. Ada kyai yang ujuk-ujuk terjun ke panggung politik hanya karena silau dengan gemerlapnya kekuasaan. Akibatnya, akal sehat yang sudah ditempa sejak usia dini pun tergerus karena mengikuti arus.
Bahkan ada juga kyai yang diikutsertakan oleh elite parpol, karena menyadari tokoh umat ini memiliki pendukung yang fanatik, sehingga diyakini mampu mendulang suara. Namun tidak sedikit juga hanya dijadikan sebagai pelengkap belaka. Terakhir inilah yang terbanyak. (yebe/aktivis media)