Allah dengan segala kerahasiannya, disadari atau tidak oleh
penghuni bumi ini, telah memberikan amanah untuk mengelola kehidupan. Tetapi untuk
menjemputnya, harus didasari niat dan orientasi cinta yang tulus.
Salah satu napak tilas untuk mengukuhkan cinta kepada Allah, melalui
qurban dengan segala dimensi filosofisnya. Cermin aktor yang qurbannya diterima
karena ketulusan, yakni Nabi Ibrahim dan sang istri, Siti Hajar, serta sang
putra, Ismail.
Ketiga aktor tersebut telah teruji keimananya. Padang Sahara
yang gersang dan tandus, kian memotivasi Nabi Ibrahim dalam berjuang dan
menjadikan Siti Hajar menjadi wanita solihah. Hingga kemudian melahirkan pemuda
tangguh sepanjang jaman bernama Ismail.
Sejarah membentangkan kebenaran, ketika Nabi ibrahim harus
meninggalkan istri dan anaknya dalam kesendirian. Buah komitmen tauhid yang
dicerahkan Nabi Ibrahim, menjadikan Siti Hajar tangguh. Bersama anak se mata
wayang, tidak sedikitpun berkeluh kesah walau ditinggal tanpa air kehidupan.
Sebagai istri, Siti Hajar harus berjuang
berlari-lari kecil dari Shofa (kejernihan)
untuk menjemput Marwa (kesegaran)
demi sang buah hati. Allah pun akhirnya berkehendak, menghentakkan kaki mungil Ismail.
Seketika itu juga, terpancar air tepat di bawah kaki sang bayi, yang kemudian
dikenal dengan air zam-zam.
Ujian kehidupan yang dialami Nabi Ibrahim tak
surut sampai disitu. Ketika anak yang ditunggu berpuluh tahun lamanya kian dewasa, Allah memberi perintah terberat.
Bahkan terberat sepanjang sejarah peradaban manusia. Agar menyembelih darah
dagingnya sendiri.
Dalam mengimplementasikan perintah ini, Iblis yang
sudah berikrar mengoda anak dan cucu Adam sebagai pengikutnya, tak putus asa. Membujuk
hati Ibrahim dan Siti Hajar agar tak menunaikan perintah Allah. Namun bujuk
rayunya tak menggoyahkan semangat suami istri itu.
Sama seperti Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, Ismail
muda pun tak luput dari godaan. Tetapi tekadnya sudah bulat, ikhlas menjadi
penyangga kedua orangtuanya. Atas ujian ini, Allah pun menyelamatkan semuanya.
Realitas di atas dalam konteks kekinian,
jadi pembelajaran berharga. Karena dalam beragama, ada manusia yang memahami dari lahiriahnya saja. Sehingga cenderung
hampa nilai.
Sementara kelompok lainnya, memahami karena
keterlibatannya yang utuh dengan perintah agama. Secara kongkrit, kelompok ini tumbuh
sikap krtitis dan kesadaran tanggungjawab sebagai intelektual sejati.
Islam adalah agama dinamis, progressif dalam
menyikapi kehidupan. Karena itu, esensi qurban sebagai salah satu ajaran luhur
yang ditawarkan, melahirkan sikap tauhid yang mengakar dengan implikasi
kesalihan individual dan sosial.
Dari qurban setidaknya mendidik beberapa hal,
seperti Ikhlas. Karena bukan daging atau darah tumpah yang diterima. Melainkan
karena takwanya (Al Hajj :37).
Ikhlas yang dipersembahkan kian tinggi ketika
mampu keluar dari tawaran harga dunia, untuk ditukarkan ketakwaan itu seperti
lulusnya Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail.
Cinta kepada Allah akan mengkristal ketika kita memiliki
kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Karena kita akan melakukan yang terbaik
untuk orang lain, seperti berbuat yang terbaik untuk diri sendiri.
Ismail adalah lambang kebanggaan. Maka nyembelih Ismail semu
adalah keniscayaan untuk menjemput Ismail hakiki. Karena di balik hikmah-hikmah,
akan terungkap saat manusia mampu menundukkan hawa nafsunya.
Qurban yang secara substansial mengandung makna mendekatkan diri
kepada Allah, mendidik kita hamparan kehidupan begitu panjang, namun bertepi. Sedang
kasih sayang Allah, tiada berujung.
Karena itulah, implikasi lain dari orang yang telah berqurban, harus
mampu meleburkan sifat akunya menjadi kita. Sebab sifat aku, membelenggu.
Sedang sifat kita, memerdekakan. (yebe/aktivis
media)
