Sudah 74
tahun bangsa ini mengenyam kemerdekaan, namun
belenggu kemiskinan masih menghantui rakyatnya. Jika kita melihat kebesaran
negara lain,
mungkin bisa ditarik
beberapa kesimpulan.
Amerika Serikat kaya karena merupakan negara
yang luas dengan penduduk yang besar. Jepang kaya karena sumber daya manusia
(SDM) yang handal menguasai teknologi.
Sedang Indonesia,
apa yang tidak dimiliki?
Penduduk dengan jumlah 260 juta lebih, merupakan sumberdaya
potensial jika
dikelola dengan baik. Sementara sumber
daya alam, banyak
yang kita punya.
Tanah yang subur ditambah bentangan laut dari
Sabang dan Merauke yang jika dikonversikan seluas 93.000 kilometer per segi. Sementara luas wilayah
keseluruhannya menurut Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), mencapai 7,9 juta kilometer
per segi.
Terlepas dari ‘budaya’
korupsi yang melekat sejak Indonesia merdeka,
sehingga rakyat menjadi korban, kemiskinan
bangsa ini akibat kurang
jeli membaca potensi yang dimiliki.
Namun bangsa
ini seperti telah lupa dengan sejarah masa lalu. Nusantara
pernah menjadi bangsa yang besar dan
mampu menundukkan lautan. Kekuatan kerajaan
nusantara sangat ditopang oleh kekuatan laut yang handal dan dukungan dari
daratan secara sinergis.
Kita pernah memiliki Kerajaan Sriwijaya, Majapahit
hingga Demak.
Indonesia negara besar yang disegani di kawasan Asia, bahkan mungkin di seluruh
dunia. Namun kenapa kekuatan itu hilang perlahan, dan sampai saat ini kita belum menemukan
bentuk negara kuat dengan nama Indonesia.
Semua itu karena kita lupa dan tidak sadar dengan potensi besar bangsa.
Ratusan tahun penjajah Belanda telah menjauhkan kehidupan kita dari lautan, sehingga terpaku ke darat.
Disadari atau tidak, Allah
SWT telah memberikan anugerah terindah bagi negeri Indonesia. Seharusnya kita
sadar akan hikmah kenapa Dia Yang Maha Pemberi telah memberikan wilayah
Indonesia dengan luas lautan kurang lebih 80
persen dibandingkan daratan.
Maha dasyatnya lautan Indonesia, dapat memuntahkan segala
isinya. Potensi ikan tangkapan mencapai jutaan
ton setiap tahunnya. Bahkan lautan, mampu mengeluarkan energi
yang sangat dasyat di tengah krisis listrik dan bahan bakar minyak (BBM) yang
melanda.
Kita ketahui, laut mampu menghasilkan energi melalui OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion). OTEC
adalah metoda menghasilkan listrik dengan memanfaatkan kesenjangan temperatur
air laut pada kedalaman yang berbeda. Energi ini mulai dikembangkan di Amerika
dan Jepang mulai tahun 70-an.
Dalam potensi perdagangan, laut juga memerankan posisi
penting. Ribuan kapal dagang asing melalui Selat Malaka, membawa barang dagangan dan
hampir kesemuanya transit di
Singapura.
Dari sini saja, Singapura telah mampu menjadikan negerinya
sebagai salah satu negara maju di dunia. Kenapa kapal-kapal yang membawa uang
untuk membongkar barang atau membeli BBM tidak singgah ke Batam atau Sabang.
Padahal ini sumber devisa yang bisa membuat rakyat sejahtera.
Cuplikan gambaran di atas seharusnya sudah
mampu membuka para pemimpin bangsa yang telah dipercaya rakyat untuk membuat
Indonesia makmur dan sejahtera. Namun
sudahkah kita melihat niatan mereka untuk
menjadikan lautan sebagai salah satu penopang utama perekonomian bangsa?
Jika parpol saja tidak jeli membaca potensi
bangsa yang bersumber dari lautan,
maka kembali 5 tahun ke depan kita akan kehilangan momen untuk menggunakan
potensi sebagai modal kekuatan membangun bangsa.
Kita harus merebut kembali kejayaan ekonomi
Indonesia. Salah satunya dengan mewujudkan kejayaan laut. Kita jadikan
Indonesia sebagai negara yang mempunyai daya tarik tersendiri untuk investasi di
bidang kelautan. Tentunya investor yang dapat membuat kita sejahtera. Bukan
investor yang mengeruk keuntungan dan dibawa pulang ke negaranya.
Jika di darat telah mampu mewujudkan
swasembada beras,
kenapa di laut tidak bisa? Yakinlah dengan potensi bangsa, karena mampu membaca
potensi diri, akan
melejit menjadi bangsa yang maju. Tidak ada keputusasaan, karena harapan itu selalu
ada. Tinggal adakah tekad untuk meraihnya? (yebe/aktivis media)
