BANJARMASIN, banuapost.co.id– Kongres Kebudayaan Banjar (KBB) ke-5 resmi bergulir. Mengusung tema: “Silaturrahmi Dieratkan, Nilai Budaya Banjar Dilestarikan”, kegiatan dihadiiri ratusan kula-kula. Tak hanya dalam negeri, tapi juga dari Malaysia dan Singapura.
Menurut Koordinator
Seminar, Taufik Arbain, silaturahmi orang-orang Banjar yang berada di luar
daerah perlu dilakukan. Ini mengingat meski mereka telah diterpa berbagai
perubahan jaman, ternyata tetap menjaga identitas Kebudayaan Banjar.
“Kebudayaan yang dimaksudkan,
tidak sekedar dalam konteks statis, Tapi juga dalam konteks
kepentingan-kepentingan kebudayaan yang dinamis,” ujar Wakil Sekretaris
Umum di kepengurusan KKB ini, Jumat (29/11), di sela-sela kegiatan.
Sementara Nola Febriani binti Salman, yang menjadi salah satu nara sumber dalam diskusi, mengaku merasa terasah kembali ada Kongres Kebudayaan Banjar.
Terlebih lagi dengan adanya
usulan jika dibuatkan website Kongres Kebudayaan Banjar, warga Banjar yang
sudah bermukim sudah 26 tahun tinggal di Singapura, menyambutnya dengan
positif.
Menurut pembicara dengan tema:
Peran dan Orientasi Perempuan Banjar Masa Lalu dan Masa Kini, di Singapura juga
sudah membuka kelas Bahasa Banjar dalam sebuah organisasinya.
Demikian juga di sosial, meski
belum resmi organisasinya, namun sudah ada paya untuk melakukan kegiatan
pelestarian seni budaya Banjar melalui berbagai forum dan membuat buku-buku
seni budaya banjar.
“Dikumpulan kita adakan
kelas Bahasa Banjar. Di sosial ada keturunan-keturunan Banjar yang sekarang ini
membuat satu organisasi yang mungkin belum tersahkan. Tapi punya grup
untuk melestarikan,” jelas dosen dan guru agama di Singapura itu. (oie/foto: olive)
