BANJARMASIN, banuapost.co.id- Olahraga, apapun jenisnya, di
negeri ini hanya meriah ketika diperingatinya Hari Olahraga Nasional (Haornas)
tiap 9 September.
Padahal haornas, sebagaimana Keputusan Presiden (Keppres)
No: 67 tahun 1985, merupakan wujud nyata kepedulian pemerintah akan pentingnya
gerakan olahraga di negeri ini.
Penetapan haornas itu sendiri, sebagaimana catatan sejarah,
dilatabelakangi dari penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama di
Surakarta, Solo, Jawa Tengah, 1 hingga 12 September 1948, tiga tahun setelah
bangsa dan negara ini merdeka.
Namun implementasinya, ternyata masih jauh dari yang
diharapkan. Olahraga hanya menjadi bagian untuk mencari kegembiraan. Berteriak
dan bertepuk tangan jika tengah senang.
Sementara untuk sang juara yang harus jatuh bangun, bahkan
hingga sampai berkeringat dingin berjuang, terutama untuk cabang olahraga tidak
terukur, hadiah yang didapat malah besaran modalnya.
Seperti itulah yang dialami pebulutangkis yang berlaga di
Kejuaraan Badminton tingkat SLTA dalam rangkaian Hari Listrik Nasional ke-47 yang
dihelat perusahaan monopoli penjual setrum itu, Jumat dan Sabtu (1-2/11).
Bagaimana tidak. Untuk juara 3 ganda (2 orang) putranya,
Rp 400 ribu. Artinya kalau dibagi, se orang hanya Rp 200 ribu. Sementara untuk
menjadi juara, paling tidak 3 atau 4 pertandingan yang dilalui. Tentunya mengeluarkan
modal yang juga tidak sedikit.
Pertanyaannya, apa pantas perusahaan yang notabene milik
pemerintah atau negara yang telah mengeluarkan UU No: 67/1985, menghargai nilai
perjuangan seseorang dalam bidang olahraga sebesar itu.
Andai pertanyaan ini diajukan ke Menteri BUMN yang baru,
Erick Thohir, dimana PT PLN (Persero) merupakan anak usaha BUMN itu sendiri, tak
terbayangkan betapa kecewanya sosok yang sukses menghelat Asian Games 2018 di
Jakarta dan Palembang itu. (yb/foto: ist)
