BANJARMASIN, banuapost.co.id– Jika selama ini hanya angan-angan, bahkan bisa jadi sebatas ada dalam mimpi, kini benar-benar kenyataan.
Bagaimana tidak. Uang sebesar Rp 10 juta diberikan Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor, untuk Ny Mulia (60), tanpa ada embel-embel apapun alias cuma-cuma.
Padahal selama ini, jangankan jumlah seabrek itu. Rupiah demi rupiah yang di dapat dalam ke seharian, kalau tidak habis hari ini ya besok. Kemudian bacari lagi.
Begitulah sekelumit kehidupan Ny Mulia, seorang petani renta warga Jl A Yani Km 12 Gambut, Kabupaten Banjar, yang sempat viral di media sosial karena di ujung usianya yang senja masih mengais rejeki untuk makan se hari.
Berkat viral di media sosial itu pula, terlebih digubuk deritanya selama puluhan tahun, rumah yang ditinggali dengan cap tidak layak huni, ikut pula dibedah hingga menjadi nyaman untuk menghabiskan sisa-sisa hari tua.
Berbagai bantuan atau rejeki yang dijabakan Sang Penguasa Alam melalui para nitizen yang merasa tersentuh dan terenyuh dengan kehidupannya, pun berdatangan.
Paman Birin, sapaan akrab Gubernur Kalsel pun rupanya terusik dengan kondisi rakyatnya ini. Selain tunai Rp 10 juta, bantuan sembako pun ikut pula digelontor, Selasa (2/5) pagi.
Tangan yang penuh keriput itupun, setengah gemetar ketika menerima bantuan dari utusan Paman Birin yang mengunjungi langsung ke pondoknya.
Tak ada hujan dan petir, rejeki yang dijabakan melalui Gubernur Kalsel ini, dengan haru dan mata menggenang air, diterima nenek Mulia yang sudah puluhan tahun hidup menyendiri sejak suaminya kembali ke pangkuan Sang Khaliq.
“Ikhlas lah pian membantu ulun ini. Alhamdulillah, mudah-mudahan Pak Gubernur disehatkan badan dan selalu diberikan rezeki yang melimpah dari Allah SWT,” ucap nenek Mulia dengan suara terdengar bergetar.
Sejarah tinggal di gubuk derita seorang diri yang hanya berukuran sekitar dua kali dua meter dengan atap jerami dan berdinding kayu yang sudah lapuk, menurut Ny Mulia, lahannya merupakan tanah milik keluarga besar orangtuanya. Namun sekarang sudah dibeli warga keturunan.
“Saya hanya diminta tolong pemilik tanah untuk mendiami, sekaligus menjaga serta berladang di tanah ini,” ujar Nenek Mulia menceritakan sepenggal sejarah hidupnya.
Selain menjagakan lahan atau tanah yang sudah puluhan tahun ditempati, nenek Mulia juga mendapat kepercayaan menggarap lahan kosong seluas 39 borongan untuk bercocok tanam padi unus siam.
“Semuanya ulun sorang yang betanam. Tapi untuk mencangkul, ulun upahkan ke urang,” kata nenek yang masih terlihat energik di usia senjanya itu. (b2n/foto: beben)