BANJARBARU, banuapost.co.id– Peringatan tentunya bagi para pemangku di Provinsi Kalsel. Kasus Covid-19 bukan melandai, sebaliknya terus melonjak. Padahal setiap kabupaten dan kota, memiliki kebijakannya masing-masing dalam menangani virus mematikan tersebut dengan PPKM.
Seperti halnya sepanjang Sabtu (7/8), jumlah korban bertambah 908 orang. Padahal se hari sebelumnya juga dengan jumlah hampir yang sama. Sehingga jumlah korban sekarang 53.303 orang. 10.744 pasien masih dirawat.
Mengutip data Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (TGTP2) Covid-19 Kalsel, hari ini ada penambahan sebanyak 477 pasien sembuh. Sehingga totalnya sejak asal pandemi merebak pada awal Maret tahun lalu menjadi 40.999 orang.
Dilaporkan terdapat 46 korban meninggal dunia. Korban berasal dari Banjarmasin: 10, Banjarbaru: 7, Tanah Bumbu dan Tanah Maut: masing-masing 6, Hulu Sungai Utara (HSU): 5, Hulu Sungai Tengah (HST) dan Tapin: masing-masing 3, Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Kotabaru: masing-masing 2, Kabupaten Banjar dan Barito Kuala: masing-masing 1 orang. Sehingga totalnya sekarang menjadi 1.560 orang.
Berikut sebaran ke-908 kasus baru yang dilaporkan 13 kabupaten/kota: Banjarbaru: 215, Kabupaten Banjar: 116, Barito Kuala: 103, Banjarmasin: 90, Tanah Bumbu: 83, Kotabaru: 72, Tanah Laut: 70, Tapin dan HST: masing-masing 43, HSS: 28, Balangan: 19, HSU: 14, Tabalong: 12 orang.
Sedang sebaran ke-363 kasus sembuh (Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar nihil): Covid-19 Kalsel: Tanah Laut: 106, Tapin: 86, HST: 70, Tanah Bumbu: 60, HSU: 57, Barito Kuala: 43, Tabalong dan Balangan: masing-masing 19, HSS: 11, Kotabaru: 6 orang.
Dengan data tersebut, persentase kesembuhan akibat Covid-19 di Kalsel mencapai 76,92 persen, dirawat 20,16 persen dan meninggal 2,93 persen.

Seiring dengan bertambahnya korban akibat terpapar virus corona di Bumi Lambung Mangkurat ini, warga diimbau untuk selalu mematuhi dan memberlakukan protokol kesehatan (prokes) dimanapun dan kapanpun.
Imbauan untuk memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, rajin mencuci tangan dengan air mengalir, tentu bukan tanpa alasan. Pasalnya virus menyerang tanpa memandang status maupun usia. Bahkan ahli dibidang medis pun turut menjadi korban, hingga meninggal dunia.(oie/ilust: ist)