JAKARTA, banuapost.co.id– Sepak terjang mafia hukum di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), jadi bahasan di acara Indonesian Young Leaders Forum dalam sesi kedua Perayaan HUT ke-50 Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Jakarta Covention Center (JCC) Sabtu (11/6).
Dalam acara yang mengusung tema: “Reinsure Legal Certainty as a Fundamental for Economic Growth”, diundang sebagai narasumber Senior Partner INTEGRITY Law Firm, Denny Indrayana.
Mantan Cagub Kalsel ini, menerangkan empat cerita untuk menggambarkan bagaimana praktik korupsi dan mafia hukum merusak sendi-sendi penegakan hukum. Salah satunya praktik di Kalsel.
Denny secara gamblang memberikan contoh nyata tentang praktik mafia hukum di tanah kelahirannya ini. Bahkan mengaku hampir tiap hari menerima pesan Whatsapp tentang ganasnya ilegal mining dan penyerobotan lahan yang terjadi.
“Bisa dibayangkan, perbuatan ilegal mining sama seperti mencuri di siang bolong. Ketika orang menjarah batubara di wilayah izin yang sah, tidak mungkin dilakukan dengan cangkul. Tentu yang digunakan puluhan alat berat, seperti excavator dan truk-truk besar,” ujar Guru Besar Hukum Tata Negara ini
Padahal, lanjut Wamenkumham 2011-2014 era Presiden SBY ini, tidak sulit. Bahkan terlalu mudah bagi aparat penegak untuk menangkap dalang dan pelakunya.
“Namun faktanya, tidak demikian. Mafia hukum telah memberi ‘tip’ kepada oknum penegak hukum. Ilegal mining dan penyerobotan lahan berkembang biak, sehingga seperti sangat sulit dihentikan,” tegasnya.
Karena duitokrasi (daulat duit) telah nyata-nyata menumbangkan demokrasi (daulat rakyat), sambung Denny, carut marut ini tidak bisa dilakukan dengan upaya biasa. Melainkan mesti diupayakan perubahan menyeluruh. Dari tindakan elit hingga mindset sebagai warga negara tentang pentingnya nilai integritas.
“Dengan pemberantasan korupsi dan mafia hukum yang efektif, dunia usaha akan semakin progresif,” pungkasnya.
Hadir bersama Denny dalam acara tersebut, praktisi dari Akademisi Universitas Airlangga, Basuki Minarno, praktisi dan Juru Bicara KPK 2016-2019, Febri Diansyah sebagai keynote speaker dan Junaedi, Akademisi Universitas Indonesia selaku moderator. (yb/foto: dok)