BANJARMASIN, banuapost.co.id– Berbicara mengenai seni kerajinan tangan di Indonesia, seperti tak penah habis-habisnya. Hampir semua daerah di nusantara, memiliki ciri khasnya masing-masing.
Begitupun dengan di Kalsel, terdapat beragam kerajinan tangan yang memiliki nilai jual dan ciri khas, seperti melambangkan suatu kebiasaan, adat istiadat dari suatu daerah yang dilahir dari generasi ke generasi.
Salah satunya, kerajinan anyaman tikar purun yang masih digeluti salah satu warga Alalak Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara.
Padahal, kerajinan anyaman yang bahan bakunya dari tanaman purun yang batangnya berserat, sekarang ini penjualan berkurang. Mengingat kerajinan anyaman bahan lain, seperti plastic, lebih banyak diminati.
Marsiyah, pengrajin tumbuhan rumput yang hidup liar di dekat air atau rawa-rawa, menganyam purun yang telah dikeringkan, sangat terampil. Jari jemarinya lincah ketika sedang menganyam.
Bergitu sudah terampilnya, Marsiyah mengaku pembuatan anyaman tikar purun memakan waktu satu hari. “Selembar untuk yang kecil, se hari sampai malam. Kalau cuma mengerjakan tikar saja, se harian selesai kalau tidak ada kesibukan lain,” imbuhnya,
Motif anyaman tikar purun yang dibuatnya pun, beragam. Seperti motif betapak dan ramak sahang. Dalam satu bulan, Marsiyah bisa menghasilkan 20 lembar anyaman tikar purun.
“Motifnya betapak dan ramak sahang. Ya 20 lembarlah paling untuk satu bulan,” tandasnya.
Kerajinan anyaman tikar purun hasil tangan Marsiyah, dibandrol dari harga Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu. Tergantung ukuran dan tingkat kesulitan anyaman yang dihasilkan. (ham/foto: hamdiah)