BANJARMASI, banuapost.co.id– Tiga hari sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk Kota Banjarmasin, bahkan dengan penerapan jam malam segala, kebijakan Ibnu Sina itu mulai menuai kritik.
Terkesan grasa grusu, menyebabkan persiapanya pun amburadul. Oleh sebab itu untuk menutupi kurangnya persiapan, dibelilah rotan dan dipotong-potong sebagai salah satu perlengkapan anggota Satpol PP untuk menakut-nakuti warga.
Banyak evaluasi yang harus dibenahi Pemerintah Kota Banjarmasin untuk penerapan PSBB yang goal orientednya seharusnya pemutusan mata rantai Covid-19.
Bahkan Rizal Nagara, aktivis mahasiswa, tanpa tedeng aling-aling menilai, PSBB di Banjarmasin hanya pencitraan dan gaya-gayaan, tanpa tujuan jelas.
Menurut Sekretaris Umum HMI Cabang Banjarmasin itu, PSBB sudah berlaku di hari ketiga, tetapi dampak penerapan sangat minim dirasakan masyarakat. Terkecuali yang pasti isi dapur yang kian menipis.
Padahal di awal, lanjut Demisioner Presiden Mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin ini, pemko menjanjikan Rp 1,5 miliar untuk disalurkan dalam bentuk sembako kepada masyarakat yang terdampak Covid-19.
“Tapi pernyataan dinsos, sembako malah dibagikan hari Selasa yang notabene hari kelima PSBB. Ini selain sudah menunjukkan koordnasinya tidak berjalan, juga seperti menunggu apa ada yang kelaparan,” kata Demisioner Presiden Mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin ini.
Ditegaskan Rizal, selama PSBB diterapkan di Kota Banjarmasin, pemerintah kotanya harus menyediakan bantuan pokok atau bantuan langsung lainnya kepada masyarakat terdampak.
Dengan bantuan ke semua warga kota, tentunya untuk memastikan mereka benar-benar tinggal di rumah selama PSBB diberlakukan.
Bahkan pemerintah kota juga harus mengurangi pajak dan retribusi daerah bagi pelaku usaha, serta harus memberikan bantuan kepada karyawan yang terdampak pemutusan kerja akibat Covid-19 ini.
“Jangan anggap enteng PSBB. Jangan cuma andalkan Polisi India. Orientasi kita memutus mata rantai Covid-19 dan membantu masyarakat yang terdampak, bukan untuk mengorbitkan Polisi India,” ucap Rizal.
Rizal mengaku sangat lucu dengan tidak terlihatnya persiapan matang yang dilakukan pemko terkait PSBB. Padahal sebelum disetujui menkes, persiapan dan pengajuan sudah sangat lama.
“Jadi kalau hanya sekadar menerapkan jam malam dan mengorbitkan polisi India, mending tidak perlu PSBB. Buang-buang anggaran negara saja,” pungkas Rizal sinis. (yb/foto: ist)