PALANGKA RAYA– Sebanyak 40 siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Palangka Raya, menjadi peserta pelatihan jurnalistik 2018 di lingkungan madrasah. Kegiatan yang berlangsung sejak Senin (29/10), menghadirkan sejumlah pemateri tokoh-tokoh insan pers di Bumi Tambun Bungai.
Ketua PWI Kalteng, H Sutransyah selaku pemateri pertama kegiatan ini, memaparkan perbedaan signifikan antara karya jurnalistik dan berita bohong atau hoax.
Dijelaskan Sutransyah, karya jurnalistik, baik berupa berita dan foto di media cetak, reportase video dan audio di televisi dan radio, serta informasi di media massa berbasis online, harus sepenuhnya didasari fakta yang dilengkapi dengan bukti dan data faktual.
Kemudian, lanjutnya, penyampaian informasinya menggunakan bahasa jurnalistik yang memiliki aturan-aturan tertentu, memenuhi unsur-unsur berita sebagai penguat fakta, serta sesuai kode etik jurnalistik.
“Unsur-unsur berita itu biasa disebut 5W+1H, singkatan dari What (apa), Who (siapa), When (kapan), Where (di mana), Why (mengapa), dan How (bagaimana),” jelas Sutransyah.
Mantan Ketua Umum HMI dan KAHMI Wilayah Kalteng itu melanjutkan, saat ini, pers Indonesia mulai menambahkan unsur “S” atau stabilitas dalam setiap pemberitaan.
Tujuannya agar informasi yang disampaikan tak hanya menyuguhkan pengetahuan, hiburan, dan kontrol sosial, namun juga turut menciptakan kesejukan dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.
“Aspek faktual, cara penyampaian, etika pemberitaan dan perkiraan dampak berita itulah yang tidak dimiliki oleh berita-berita palsu atau hoax,” tegasnya.
Selain Ketua PWI, pelatihan jurnalistik yang digelar selama 2 hari di Ruang Multimedia MAN Palangka Raya ini, juga menampilkan pemateri insan pers
dari media massa cetak, televisi, radio, dan online.
Kegiatan yang mengangkat tema: “Aktualisasi Jurnalis dalam Mewujudkan Generasi Milenial Emas” itu juga diisi dengan agenda pengukuhan Pengurus Jurnalis MAN Kota Palangka Raya tahun pelajaran 2018-2019. (*/yb/foto: ist)