GAMBUT, banuapost.co.id–
Di Kalsel, sebagaimana prevalens atau perhitungan orang dalam jumlah populasi Orang
Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), diperkirakan ada sekitar 6.000 orang yang
menderita gangguan jiwa berat. Angka ini berdasarkan prevalens, dari 2.000
orang maka ada tiga di antaranya yang mengalami gangguan jiwa berat.
“Jadi kalau di Kalsel ada sekitar 4 juta penduduk, maka
diperkirakan ada sekitar 6.000 orang yang mengalami gangguan jiwa berat,” ujar dr
Dharma Putra.
Dirut RSJD Sambang Lihum mengemukakan jumlah tersebut di
sela Family Gathering dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Dunia di halaman
rumah sakit yang berada di Jl Gubernur Syarkawi, Kecamatan Gambut, Kabupaten
Banjar, Selasa (12/11).
Namun dari angka penderita gangguan jiwa berat tersebut, lanjut
dr Dharma, tidak semua yang mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa. Penyebabnya,
ada yang disembunyikan keluarganya. Serta tidak sedikit juga yang dibiarkan
atau ditelantarkan keluarga.
Sedang di RSJD Sambang Lihum, untuk saat ini ada sekitar
4.000 pasien rawat inap. “Tapi kalau dihitung sejak berdirinya rumah sakit ini,
sudah lebih dari jumlah tersebut yang kami rawat,” kata Dharma.
Ke depan, sambung dr Dharma, untuk meminimalisir angka
ODGJ tersebut, timnya akan terjun ke jejaring mereka di kabupaten atau kota.
Tim nantinya memberikan kesadaran bagi masyarakat untuk bisa mendeteksi anggota
keluarga mereka yang berpotensi mengalami gangguan jiwa.
“Termasuk anak-anak yang saat ini berpotensi mengalami
kecanduan akibat bermain gadget atau gawai sebagai imbas maraknya game online.
ODGJ, termasuk kategori gangguan jiwa berat, diyakini
bisa disembuhkan. Namun untuk bisa sembuh paripurna atau tidak kambuh lagi,
perlu peran keluarga dalam membimbingnya kembali mandiri.
Diakui Dharma, untuk penyembuhan ODGJ pada tahap awal,
memang memerlukan perawatan di rumah sakit. Namun setelah dinyatakan sembuh dan
membantu ODGJ untuk sembuh paripurna, diperlukan dukungan dan pengawasan dari
keluarga.
“Sejauh ini data yang kami miliki, pasien yang kemudian
sembuh paripurna mencapai 30 persen. Angka ini lebih tinggi dari nasional yang
hanya berkisar 10 persen. Begitu pula pasien yang sembuh dengan gejala sisa
atau terkadang kumat lagi, mencapai 80 persen, lebih tinggi dari angka nasional
yang berkisar 70 persen,” beber Dharma.
Menurut Dharma, untuk saat ini, baru sekitar 50 persen
keluarga ODGJ yang punya kesadaran untuk ikut membimbing pasien yang pernah
dirawat di rumah sakit jiwa. Sedang sepertiganya lagi, diperkirakan ikut
merawat keluarganya yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa dengan
keterpaksaan.
Padahal dengan pemberian kasih sayang bagi ODGJ yang
dinyatakan sembuh oleh rumah sakit, peluangnya untuk sembuh paripurna cukup
besar.
Sehingga mereka ke depannya tidak lagi jadi beban
keluarga. Sebaliknya apabila sudah bisa mandiri dan muncul kepercayaan diri,
bisa menjadi sumber pemasukan bagi perekonomian keluarga. (emy/foto: iman)
