SAMPIT, banuapost.co.id– Harga jual buah kelapa di wilayah selatan Kotim, khususnya Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), Pulau Hanaut dan Teluk Sampit, yang melakukan pengiriman keluar pulau mengalami penurunan.
Kondisi ini karena pasaran Pulau Jawa, seperti Surabaya, Jakarta dan Semarang, turut dibanjiri pemasok dari Pulau Sumatera dan Sulawesi.
Selain itu, penarik buah kelapa khusus wilayah Kotim, selain dari Banjarmasin dan Palangka Raya, dibanding dari daerah Pulau Jawa, seperti Surabaya, Jakarta dan Semarang, masih kalah banyak.
“Terlebih lagi kelapa kita kalah bersaing dengan buah dari Sumatera dan Sulawesi. Karena kualitas buah mereka selain besar, isinya tebal dan benar-benar dipetik tua dari pohon,” kata Ketua Asosiasi Petani Kelapa Indonesia (APKI), Saprudin, Sabtu (11/7).
Beda dengan di Kotim. Terkadang belum masa panen, petani sudah metik. Akibatnya, kualitas barang kurang begitu baik. Sehingga harga pun ikut terimbas.
Bagi para pembeli pabrikan maupun pelanggan, terpaksa menurunkan harga lantaran kualitas buahnya kalah bersaing. Sehingga harga di lokalan petani di daerah, turut menurun.
“Apalagi saat ini kelapa dari daerah lain sedang membanjiri kota-kota di Pulau Jawa, seperti Surabaya, Jakarta dan Semarang,” jelasnya.
Sekarang harga petani untuk loncong berkisar antara Rp 800 sampai dengan Rp 1.000. Kalau harga sortir di pengepul, kisaran Rp 1.300 sampai Rp 1.400 per biji. Sementara untuk harga pengiriman keluar daerah, dihitung per kilo.
“Masuknya ke pabrik per kilogramnya sekitar Rp 2.800. Ini belum termasuk biaya ekpedisi dan tranportasi,” ujar Saprudin yang juga menjabat Kades Regei Lestari, Kecamatan Teluk Sampit.
Sebelumnya pengiriman kelapa dari wilayah Kotim, baik ke Palangka Raya, Banjarmasin hingga Pulau Jawa, seperti Surabaya, Jakarta dan Semarang, setiap harinya mencapai 150.000 biji.
“Namun sejak ada persaingan, permintaan menurun antara 70 ribu sampai 120 ribu biji per hari,” imbuhnya. (um/foto: ist)