BANJARMASIN, banuapost.co.id– Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), Ir H Ahmadi Noor Supit, minta kader organisasi tersebut merekam dan mencatat apa yang diperlukan warga terdampak pasca banjir.
Dengan demikian, segala masukan dari korban terdampak dapat diteruskan ke pemerintah maupun pihak swasta lainnya, untuk bersama-sama berpartisipasi menanggulanginya.
Permintaan tersebut dikemukakan mantan anggota DPR RI ini setelah mendengar keluhan Ketua RT 22 Sungai Gampa, Mulyadi.
Keluhan tersebut mengemuka dalam kunjungan Depinas SOKSI ke salah satu wilayah di Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Ahad (24/1), untuk membagikan bantuan ke korban terdampak banjir.
Sebelumnya Mulyadi menjelaskan, di RT-nya ada 157 KK dengan jumlah sekitar 500 jiwa. Selama banjir 10 hari, ada sebagian yang sudah mendapat bantuan.
Namun dengan adanya bantuan dari pusat ini, diharapkan dapat perhatian lagi. Karena akibat banjir banyak peralatan warga yang larut, terutama peralatan rumah tangga.
“Menjadi masukan dan akan dibicarakan dengan donatur-donatur lainnya,” jawab Memet, sapaan akrab Ir H Ahmadi Noor Supit, yang datang ke Sungai Gampa dengan didampingi istrinya, Hj Dewi Damayanti Said, yang juga Anggota DPRD Kalsel, beserta pengurus pusat dan daerah.
Menurutnya, kegiatan bakti SOKSI ini untuk ikut serta dalam rangka menanggulangi, sekaligus berbagi merasakan musibah terdampak banjir di Kalimantan Selatan.

“Kita juga lakukan ini dihampir seluruh daerah yang kena bencana. Apakah di Sulawesi Barat, di Manado, maupun di Sumedang. Jadi SOKSI di daerah-daerah tersebut melakukan penggalangan bantuan untuk membantu masyarakat yang terdampak,” jelasnya.
Di Kalimantan Selatan, sambung Memet, SOKSI melakukan di beberapa titik bantuan, seperti di Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, Batola dan Banjarmasin.
“Karena itu apa yang kami lakukan, mudah-mudahan betul-betul bermanfaat,” imbuhnya.
Diakui Memet, bantuan untuk warga terdampak di Kota Banjarmasin, memang agak terlambat. Namun justru menjadi tahu ada daerah-daerah yang tidak tersentuh bantuan.
“Karena banyak daerah yang masih terisolir dan sulit dijangkau. Sehingga orang mencari yang mudah-mudah. Sementara SOKSI memulainya dengan daerah-daerah yang sulit dijangkau,” pungkasnya. (oie/foto: ist)