BANJARMASIN, banuapost.co.id– Menurunnya penjualan sebagai imbas wabah Covid-19, juga dirasakan salah satu pelaku usaha mikro, Ny Ida Mahrati.
Wanita berusia 47 tahun, pemilik usaha wadai kecil-kecilan di Jl Pramuka, Banjarmasin Timur. Dilakoninya sejak 2016 lalu, setelah sang suami meninggal karena sakit.
Ny Ida mengaku, pandemi ikut mempengaruhi kelangsungan usahanya. Karena pendapatan yang diperoleh, hari demi hari terus merosot.
“Dalam sehari saya hanya mendapatkan keuntungan rata-rata Rp 50 ribu. Dari keuntungan itu, Rp 15 ribu di antaranya dibayarkan ke cicilan utang harian,” ucapnya.
Saat usaha wadai sedang lesu, Ny Ida juga harus memikirkan biaya sekolah anak-anaknya yang menunggak untuk pembayaran SPP. Karena itulah, terpaksa berutang agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
“ini semua demi anak-anak. Yang penting, mereka bisa sekolah,” ujarnya.
Dalam keseharian, Ny Ida memulai usahanya dari pagi hari pukul 03:00 Wita. Sebelumnya harus ke pasar untuk mendapatkan jajanan dengan harga murah yang akan dia jual kembali.
“Per biji saya dapat untung Rp 200, dan saya biasanya bawa uang Rp 200 ribu ke pasar,” terangnya.
Mendengar keluh kesah Ny Ida ini, Aksi Cepat Tanggap Kalimantan Selatan memberikan bantuan modal untuk usaha, melalui program Sahabat Usaha Mikro Indonesia (SUMI).
“Terima kasih banyak atas bantuannya. Semoga ACT dan para donatur mendapat berkah atas kebaikan ini,” katanya terdengar lirih.
Program SUMI, menurut koordinatornya, Retno Sulistiyani, bertujuan untuk mendampingi para ibu yang berjuang mencari nafkah di tengah pandemi korona.
Serta merangkul berbagai pihak, termasuk para UKM yang sudah mulai bertumbuh atau ibu rumah tangga yang belum memiliki usaha.
“Kami mendorong para ibu memulai dari olahan sehari-hari. Misal, sering membuat cemilan untuk anak-anaknya bisa inovasi lagi, sehingga layak untuk ditawarkan kepada warga sekitar,” jelas Retno. (ham/foto: ist)