LONDON, banuapost.co.id– Puncak Euro 2020 mempertemukan dua negara dengan tradisi dan liga profesionalnya yang tak asing lagi, Serie A dan The Premier League. Ya, Italia vs Inggris di Stadion Wembley, London, Senin (12/7) dini hari Wita.
Sebagaimana dilansir dari transfermarkt, keduanya sudah pernah bertemu 27 kali. Sembilan di antaranya di laga kompetitif, Piala Dunia dan Euro. Dari sembilan pertandingan, Italia menang tujuh kali, kalah satu kali, dan sekali imbang.
Satu-satunya kekalahan Italia terjadi 44 tahun lalu, November 1977 di kualifikasi Piala Dunia. Namun pada pertemuan terakhir di Grup D Piala Dunia 2014, Italia menang 2-1 berkat gol-gol Claudio Marchisio dan tandukan Mario Balotelli. Sementara Inggris hanya berhasil mencetak satu gol lewat aksi Daniel Sturridge.
Begitupun di turnamen empat tahunan kali ini, skuad asuhan Roberto Mancini sampai ke final melewati banyak krikil, tak semudah Inggris. Bahkan tidak masuk urutan teratas bursa calon Raja Eropa. Tetapi mereka bisa menahan semua rasa sakit.
Usai lolos dari fase grup, Giorgio Chiellini dan kawan-kawan nyaris disingkirkan Austria. Kemudian diuji tim nomor satu dunia FIFA, yakni Belgia, dan dibuat tertatih-tatih menghadapi permainan ofensif Spanyol.
Namun demikian, Gli Azzurri (The Blues) mampu memberi bukti di laga-laga sulit itu. Tim yang minim pemain bintang di Euro ini, membuktikan dengan karakter dan bisa beradaptasi dengan situasi apapun.
Italia tak diunggulkan saat bersua Belgia di perempat final. Tetapi taktik Mancini membuat Belgia yang diperkuat generasi emas, sama sekali tidak berkutik.
Di semifinal, Italia memperlihatkan wajah yang berbeda. Juara Euro 1968 itu menanggalkan cap sebagai tim yang dominan dalam penguasaan bola sejak fase grup. Penguasaan bola sudah ada dalam DNA Spanyol.
Terbukti, statistik pertandingan dalam penguasaan bola, Italia kalah jauh. 35 persen berbanding 65 persen. Tetapi tetap tampil tenang dan tidak panik dengan dominasi yang diperlihatkan Spanyol, hingga akhirnya bisa menang. Meski dengan adu penalti.
Kemampuan beradaptasi dengan beragam situasi pertandingan, bisa menjebak Inggris. Apalagi The Three Lions seperti sebuah tim yang begitu sempurna nyaris menurut media mereka terkenal dengan propagandanya tak ada cacat.
Inggris bisa meraih hasil optimal terlepas dari apapun strategi yang diterapkan Gareth Southgate. Harry Kane dan kawan-kawan begitu fleksibel bermain dengan formasi 4-2-3-1 atau 3-5-2.
Taktik 4-2-3-1 lebih sering dipakai, termasuk saat menghancurkan Ukraina 4-0 dalam perjalanan mereka sampai ke final.
Di luar itu, para pemain Inggris juga fasih saat harus beradaptasi dengan pola 3-5-2 saat bersua Jerman dan di babak perpanjangan waktu ketika mengalahkan Denmark.
Duet Harry Maguire dan John Stones, begitu solid di lini belakang. Duo Declan Rice dan Kalvin Philips, jaminan ketangguhan lini tengah. Sementara Kane, sedang dalam performa terbaik berkat torehan empat golnya.
Beragam kelebihan itu membuat timnas Inggris jadi tim yang lebih diunggulkan. Belum lagi dukungan fans akan memadati Stadion Wembley dengan menggaungkan jargon: Football’s Coming Home sepanjang laga.
Inggris pun diyakini layak untuk mengangkat trofi Euro untuk kali pertama sepanjang sejarah, sekaligus membawa Piala Henri Delaunay ke tempat olahraga sepakbola itu sendiri berasal.
Tetapi persoalannya, Italia bukan tim yang bisa dipandang sebelah mata. Timnas dari negara kuliner spaghetti dan pasta yang terkenal ini, bukan pula tim yang bisa dengan mudah diterkam Tiga Singa.
Negeri dengan salah satu warisan budayanya yang terkenal di dunia, Koloseum (arena gladiator), telah menunjukkan selalu bisa keluar sebagai pemenang di laga sesulit apapun.
Kemampuan Italia yang bisa beradaptasi dengan beragam tipe permainan, justru bisa jadi bahaya buat Inggris yang terlihat begitu solid. Karena sulit menebak arah.
Bermain pragmatis akan membuat Italia bisa memainkan permainan ofensif yang selama ini jadi andalan Mancini. Sementara jika Inggris terlalu bernafsu menguasai bola, Italia bisa menebar ancaman lewat kecepatan Lorenzo Insigne dan Federico Chiesa.
Satu-satunya masalah pelik yang dihadapi Italia, menurunnya kinerja Ciro Immobile. Penyerang Lazio itu tidak mampu mencetak satu gol pun di fase gugur.
Di luar itu, Italia dan Inggris sama-sama punya peluang untuk memenangi laga. Apakah Inggris merasa sempurna bisa lepas dari jebakan Italia yang juga memburu trofi kedua mereka di Euro. Pertandingan disiarkan langsung RCTI dan INews pukul 03:00 Wita. (yb/foto: google)