“Apakah kita sudah benar-benar merdeka?” Pertanyaan mengelitik tiap kali Kemerdekaan Republik Indonesia dirayakan. Jawaban pertanyaan ini bisa sebagai suatu refleksi, kritik, autokritik, atau sekadar jadi jargon lemparan begitu saja.
Pastinya terdapat macam ulasan dalam menyoal kemerdekaan. Bahkan mungkin, sebagian kalangan merasa sudah bosan atau jenuh dengan perspektif yang itu-itu saja dari waktu ke waktu, karena setiap tahun, masalah-masalah bangsa tetap saja terjadi.
Memang peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945, menurut Bung Karno barulah sebuah kemerdekaan dalam tataran politik. Merdeka dari penjajahan asing. Sehingga perjalanan selanjutnya, ‘merdeka’ dari berbagai bidang kehidupan lainnya.
Jika mencermati perjalanan negeri yang sudah berusia 73 tahun, 17 Agustus 2018 ini, ada berbagai macam konteks yang dapat dipertautkan. Salah satunya, mengapa di negeri kepulauan ini masih banyak orang miskin dan bodoh? Pertanyaan ini bisa berujung pada kritikan, baik itu warga masyarakatnya sendiri hingga terhadap aparatur negara yang malas.
Namun apa tolok ukur kemiskinan dan kebodohan itu? Sebab kemiskinan dan kebodohan itu sendiri punya banyak argumen. Namun apabila keduanya disilangperkarakan dengan konteks kemerdekaan saat sekarang, barangkali kemiskinan dan kebodohan dalam berpikir serta berperilaku.
Perkembangan zaman yang semakin canggih, bukannya membuat orang senantiasa berpikiran terbuka dan visioner. Sebaliknya gemar mengkritisi hal-hal yang sebenarnya tak penting. Eksistensi teknologi, khususnya internet dan media sosial, menjadi tempat pertunjukan kebebalan dan kebodohan itu.
Orang mudah sekali dipengaruhi hal-hal yang mereka sendiri tidak paham substansinya. Sehingga tanpa disadari, menjadi budak pihak-pihak tertentu yang berkepentingan dan punya kekuatan dalam mengendalikan wacana.
Bahkan orang tidak lagi melakukan suatu hal berdasarkan akal sehat. Tapi pada bangunan identitas kelompoknya. Lantas keyakinan golongan menjadi rujukan paling moncer dalam menbedah setiap persoalan bangsa.
Dengan demikian, merdeka dari penjajahan berpikir, juga anutan kepentingan politik identitas, sebetulnya merupakan item serius dan relevan untuk dibicarakan saat ini. Inilah bentuk pemiskinan dan pembodohan lain yang paling nyata.
Inilah yang menyebabkan wacana-wacana terkesan dikendalikan kuat oleh kelompok yang menggaungkan politik identitas tertentu. Sehingga barangkali status ‘anjing penjaga’ akal sehat, hanya dilakonkan figur yang itu-itu saja.
Makna kemerdekaan memang harus senantiasa dibicarakan. Jangan jemu dikumandangkan. Tak kenal rasa lelah dan bosan. Tak pandang bulu identitas, atau status sosial apa pun.
Dia mestinya lebih daripada sekadar ujaran ‘NKRI Harga Mati’, ‘Saya Pancasila, Saya Indonesia’, atau apa pun jargon ke-Indonesiaan lainnya. Dia sepatutnya bergema di mana saja. Selamat Ulang Tahun ke-73 Negeriku! (yebe/aktivis media)