JAKARTA, banuapost.co.id– Upaya pemerintah mengevakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) di kapal pesiar Diamond Princess di Pelabuhan Yokohama, Jepang, mengutamakan prinsip kehati-hatian.
Selain masih berkomunikasi dengan otoritas pemerintah Jepang
terkait proses pemulangan, pemerintah juga berupaya menjaga agar 264 juta jiwa
penduduk Indonesia selamat dari wabah virus korona.
“Pemerintah sangat berhati-hati dan tidak tergesa-gesa
agar bisa melaksanakan evakuasi dengan baik,” ujar Menkes Terawan Agus Putranto
usai menghadap Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Senin (24/2).
Terawan menghadap Kepala Negara bersama Menteri
Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi.
Menurut menkes, saat ini negosiasi dengan pemerintah
Jepang terus dilakukan dengan upaya, teknik, cara yang paling baik untuk bisa
mengeluarkan WNI itu.
“Jadi ini nego terus. Kita nego tapi tidak dengan cara semaunya sendiri. Kalau caranya semaunya
sendiri, saya membentuk episentrum baru. Enggak boleh,” ucap Terawan.
Pemerintah, lanjut menkes, selain sangat berhati-hati, juga
harus mengikuti kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
“Supaya kita tetap green zone ya. Tapi juga tidak
menyepelekan keadaan yang di sana. Tetapi tata caranya kan kita tahu, cara yang
tepat untuk melakukan pemindahan tanpa harus membuat episentrum baru,”
imbuhnya.
Seperti diketahui, kapal Diamond Princess telah menjalani
proses karantina usai sejumlah penumpang maupun awaknya, positif terinfeksi
virus korona, termasuk sembilan WNI dari Indonesia yang sedang menjalani
perawatan di rumah sakit di Jepang.
Selain sembilan orang tersebut, ada sejumlah WNI lainnya
yang masih berada di kapal pesiar Diamond Princess. (yb/din/foto: setneg)