Oleh : Erdeny Mithriany Yunus (Wakil Sekretaris IJTI Kalsel)
Dunia saat ini dihebohkan wabah Virus Covid-19 atau lebih
dikenal virus corona. Bahkan Pemerintah China terpaksa, mengisolasi salah satu
kotanya, Wuhan. Karena banyak warganya yang terpapar, dan tidak sedikit juga yang meninggal dunia.
Akibat kondisi demikian, negara-negara di dunia juga
mewaspadai penyebaran virus ini. Termasuk Indonesia hingga memulangkan warganya.
Sebanyak 238 WNI dipulangkan dari China. Untuk memastikan
kesehatannya, WNI yang sebagian besar mahasiswa, menjalani observasi dan
karantina di Hanggar Lanud Raden Sadjad Ranai Natuna.
Dari 238 WNI, tujuh di antaranya warga Kalimantan
Selatan. Satu warga Kota Banjarmasin dan enam warga Kabupaten Tabalong. Usai
menjalani karantina selama dua pekan atau 14 hari, mereka akhirnya bisa pulang
ke rumah masing-masing.
Berdasarkan skema kepulangan pemerintah pusat, 238 WNI
ini diterbangkan dari Natuna ke Bandara Halim Perdana Kusuma, Sabtu (15/2)
siang.
Setibanya di Halim Perdana Kusuma, tim pemerintah pusat
menyerahkan mereka ke perwakilan pemerintah daerahnya, untuk melanjutkan
perjalan ke daerah masing-masing.
Tujuh mahasiswa asal Kalsel, dijadwalkan berangkat dari
Bandara Sukarno Hatta Jakarta, Minggu (16/2) sekitar pukul 10:10 WIB, menuju
Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin di Banjarbaru.
Tidak seperti pemprov lainnya, menurut Kepala BPBD
Kalsel, Wahyudin, tidak ada penjemputan khusus kepada para mahasiswa itu.
Mereka dijemput keluarga masing-masing, sementara tim hanya melakukan
monitoring.
Sebelumnya, Sekdaprov Kalsel Haris Makkie mengatakan,
tidak ada perlakuan khusus. Alasannya,
mereka sudah menjalani karantina dan sudah dinyatakan bebas virus
corona. Justru akan aneh atau menimbulkan pertanyaan di masyarakat, bila mereka
diperlakukan khusus.
Bila hal itu sebuah kebijakan, tentulah bukan sesuatu
yang salah. Karena menjadi hal yang penting untuk menjaga privasi mereka.
Apalagi mereka sempat merasakan kecemasan berada di daerah yang tengah dilanda wabah
mematikan.
Sehingga bagi mereka, pulang ke rumah bisa jadi melepas
penat sambil meluapkan kerinduan dengan keluarga yang juga sempat cemas. Jadi
tidak perlu lagi ada hal-hal yang bisa memicu kekhawatiran masyarakat. Atau mereka
memang tidak menginginkan perlakuan khusus.
Namun rasanya tidak ada salahnya juga memberikan mengapresiasi.
Meski hanya sekadar menjemput, atau mengucapkan selamat datang dan memberi
semangat agar tidak trauma dengan apa yang sudah dialami.
Syukur-syukur bila pemerintah daerah bisa menjanjikan
kemudahan bagi mereka untuk bisa kembali melanjutkan pendidikan, saat wabah
virus corona sudah teratasi.
Karena mereka sedikit dari banyak generasi muda Banua yang
punya semangat meraih mimpi dan punya keberanian berkuliah di negeri tirai
bambu.
Sebuah negeri yang masih mempertahankan ideologi komunis
yang bagi sebagian orang tentu menakutkan. Sebuah negeri maju yang kini menjadi
musuh dagang negara adidaya Amerika Serikat.
Semangat dan keberanian mereka, tentu saja ditopang
dengan prestasi. Karena beberapa dari mereka, mendapat kesempatan berkuliah di
perguruan tinggi di China atas beasiswa yang berhasil diraih.
Tapi saat ini mereka harus pulang, meredam semangat dan
keberanian, untuk mengurangi kecemasan keluarga yang lama menanti kepulangan.
Saat ini mereka harus bersabar. Karena manusia harus
percaya, ada hikmah dan juga mungkin prestasi yang bisa dipetik di balik
musibah.
Seperti halnya yang dirasakan Pemerintah China. Upaya melawan
virus corona, mendapat banyak dukungan, bahkan pujian. Mereka mampu membangun rumah
sakit khusus untuk pasien yang terpapar.
Fasilitas kesehatan di lahan seluas 33.900 meter per segi,
memiliki 1.000 tempat tidur. Pembangunan rumah sakit dalam waktu delapan hari, mengundang
apresiasi banyak pihak. Sebuah prestasi di tengah mewabahnya virus corona.
Begitu pula dengan para mahasiswa yang berkuliah di China,
termasuk dari Kalsel, prestasi yang mereka raih diketahui banyak orang. Sehingga menjadi motivasi bagi anak muda lainnya untuk
punya semangat meraih pendidikan tinggi, sebagai bekal di masa depan.
Oleh sebab itu tidak ada salahnya mereka disambut, meski
tidak harus dengan perlakuan khusus. Karena belum banyak anak muda Banua
berprestasi, seperti mereka yang bakal jadi kebanggaan pemerintah daerahnya.
