BATULICIN, banuapost.co.id– Pengembangan potensi kepariwisataan Tanah Bumbu kian gencar digalakkan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporpar) setempat dengan mempromosikan beberapa destinasi unggulan.
Bahkan akhir pekan tadi, memboyong komunitas pegiat gambar (Kopi Ambar) untuk mengeksplor beberapa pantai di Kecamatan Satui dan Angsana.
Kunjungan ke sejumlah pantai merupakan bagian program pengkajian pengembangan kepariwisataan di kabupaten yang memiliki banyak potensi kemaritiman ini.
Keitutsertaan belasan anggota komunitas pegiat di bidang audio-visual ini, juga dimaksudkan untuk mempromosikan keindahan alam objek tujuan.
Dalam kunjungan tersebut, sedikitnya ada empat lokasi baru yang dieksplor. Pertama, Pantai Setarap yang jaraknya kurang 2 kilimoter arah barat Pantai Angsana.
Keistimewaan Pantai Setarap, selain memiliki gugusan batu karang, juga terdapat legenda sumur jodohnya. Sumur dengan keanehan, karena airnya yang tawar meski dikelilingi air laut.
Tujuan kedua, bukit di sebelah barat Pantai Bunati. Dari bukit ini terlihat pemandangan alam yang memesona. Uniknya, bebatuan di bukit ini sebagian adalah batubara yang belum dieksploitasi. Sehingga selain panorama pantai dan laut pengunjung juga dapat melihat dari dekat wujud emas hitam yang masih alami.
Berikutnya, bukit di atas muara sungai Pantai Angsana. Menikmati suasana sunrise di bukit ini sangat mengagumkan. Posisi matahari terbit tepat berhadapan dengan bukit. Sehingga dari atas, pengunjung dapat sekalian menikmati terik pagi, sekaligus memandang pantai dan deretan kapal-kapal nelayan yang berlabuh di tepi pantai.
Selanjutnya gugusan karang di tengah laut. Untuk menuju tempat ini menggunakan perahu, membutuhkan waktu 20 -30 menit dari Pantai Angsana.
Sekitar 2 hektare gugusan batu karang di tengah laut, menjadi pemandangan yang menakjubkan. Namun pemandangan ini hanya dapat dinikmati saat debit air sedang surut.
Menurut Kepala Disporpar Tanbu, Hamaluddin Tahir, Kabupaten Tanah Bumbu yang terletak di sisi selatan pulau Kalimantan, menyimpan keindahan alam, terutama pantai yang istimewa. Sehingga menjadi kewajiban disporpar untuk memaksimalkan potensi dan melakukan sejumlah pengembangan.
“Kita diuntungkan dengan kondisi geografis. Tinggal kita yang menggali potensi-potensinya. Sehingga sektor kepariwisataan di daerah ini, bisa tumbuh baik dan memberi dampak positif ke ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Dijelaskan Hamal, kunjungan pihak disporpar yang melibatkan Kopi Ambar, merupakan langkah awal untuk membuat pemetaan dan pemeroyeksian pengembangan kepariwistaan pada objek-objek baru yang potensial.
“Kami melakukan survey, sekaligus meng-eksplore keindahan alamnya. Kami sengaja melibatkan pegiat-pegiat ini, selain untuk keperluan dokumentasi dan publikasi, juga meminta masukan dan persfektif,” ucapnya saat berdiskusi di salah satu resort di Pantai Angsana.
Soal rencana pengembangan, menurut Hamal, disporpar sedang memantapkan pengkajian terhadap beberapa aspek. Pengkajian juga dimaksudkan untuk menggali informasi tentang komponen vital, seperti legalitas lahan dan akses jalan.
“Pada prinsipnya kami sangat antusias. Kami ingin beberapa potensi ini menjadi destinasi alternatif, karena setiap destinasi memiliki karakter dan keunikan yang berbeda. Namun demikian, kami masih membutuhkan kajian yang mendalam,” imbuhnya.
Dijelaskannya, pengembangan kepariwisataan tidak dapat dilakukan sekaligus, melainkan harus bertahap. Pengembangan juga tidak dapat dilakukan hanya oleh pihaknya, melainkan kerjasama berbagai komponen.
“Seperti kita tahu, pos anggaran di dinas (pariwisata, Red.) itu terbatas. Sehingga perlu kerjasama yang baik dengan pihak desa. Di desa melalui Dinas Pemberdayaan Desa juga ada anggaran untuk mengembangan kepariwisataan. Ini yang kita komunikasikan,” pungkasnya. (uza/foto: bzak)