KOTABARU, Banuapost.co.id- Bahasa Banjar sebagai bahasa daerah perlu dipertahankan dan dilestarikan. Mengingat prilaku berbahasa remaja yang kecenderungannya bergeser ke bahasa prokem atau bahasa gaul. Bahasa Banjar perlu tetap dituturkan dan dipertahankan sebagai ciri kebudayaan serta identitas bangsa.
Fenomena kebahasaan tersebut dianggap ancaman serius. Di mana saat generasi penerus tidak lagi gemar menuturkan Bahasa daerah, maka lambat laun keberadaan bahasa daerah dapat tergerus atau bahkan menghadapi ancaman kepunahan. Ini sudah terjadi pada beberapa bahasa daerah sub etnis. Atas latar belakang tersebut, sekolah penggerak SMP Negeri 1 Kelumpang Barat Kabupaten Kotabaru menyelenggarakan program revitaslisasi Bahasa Banjar.
Program ini berjalan selama dua pekan, 18 September berlangsung hingga 30 September mendatang. Kegiatan yang cukup menyita animo peserta didik ini, melibatkan seluruh siswa dan jenjang kelas di sekolah tersebut.
Siswa dikelompokkan sesuai jenjang kelas, setiap jenjang kelas secara bergiliran akan mendapatkan materi tentang penggunaan Bahasa Banjar baik dalam situasi formal maupun situasi non formal. Siswa juga mendapatkan pembekalan menulis karya sastra tradisi dalam Bahasa Banjar. Sejumlah kosakata dan frase Bahasa Banjar yang hampir mengalami kepunahan, diperkenalkan kembali dalam kegiatan ini.
Salah satu guru master yang terlibat dalam kegiatan ini, Muzakkir mengatakan, kegiatan ini memang berlangsung cukup lama karena secara teknis metodologi pembelajaran revitaslisasi bahasa daerah tidak dapat dilakukan secara instan.
“Memang kami menyusun jadwalnya bergiliran dalam setiap jenjang, setiap jenjang juga dilakukan dalam beberapa kali pertemuan. Tidak dapat dilakukan massal karena tidak efektif,” ujar Muzakkir guru yang dalam kesehariannya mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Kepala SMP Negeri 1 Kelumpang Barat, Said Hairullah mengatakan, program revitaslisasi yang digalakkan di sekolahnya juga sekaligus mendukung program Pusat Pembinaan Bahasa Kemdikbud yang di Kalimantan Selatan digawangi Balai Bahasa.
Salah satu implementasi dari program ini, sekolahnya nantinya akan mengikutsertakan siswanya pada ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang akan pelaksanaannya dijadwalkan pada Oktober mendatang.
“Festival yang akan dilaksanakan di tingkat kabupaten dan provinsi ini akan menjadi ruang apresiasi terhadap peserta didik atas upaya mempertahankan bahasa daerah dan telah menghasilkan karya kedaerahan, “ ujar Said Hairullah yang memiliki latar belakang sarjana Bahasa Inggris.
Namun Said menandaskan, program ini tetap memprioritaskan penanaman nilai luhur tradisi bahasa lisan pada peserta didik di tengah arus modernisasi dan kemajuan informasi teknologi.
“Jika mampu berprestasi pada ajang festival itu bonus, penekanannya tetap pada pemertahanan Bahasa daerah,” pungkasny.
Untuk diketahui peserta didik di SMPN 1 Kelumpang Barat memiliki latar belakang suku yang beraneka ragam. Mayoritas Banjar kurang lebih 50 %, suku Dayak 25 %, suku Jawa 15 %, selebihnya bervariasi antar suku Bugis dan pendatang asal Sumatra. Demikian juga dengan keragaman latar belakang agama, peserta didik beragama Islam, Kristen, Hindu dan kepercayaan Kaharingan. (uza/foto:ist)
Bnuapost.o.id, Kotabaru, Spensa, Kelumpang Barat, Lestarikan, Bahasa Banjar