BANJARMASIN, banuapost.co.id– Berperan penting dan strategis dalam pembangunan daerah maupun nasional, Pemprov Kalsel mendorog percepatan pembangunan sektor perkebunan sebagai salah satu sumber utama pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut dikemukakan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalsel, Suparmi, ketika memberi sambutan dalam seminar yang digagas Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) di Hotel G’Sign, Kamis (8/10).
Seminar ini dihelat dalam rangka memperkuat kemitraan pelaku usaha perkebunan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani kelapa sawit.
Menurutnya, sektor perkebunan berperan dalam penyerapan tenaga kerja, penerima devisa, Produk Domestik Bruto (PDB), penyediaan bahan baku industri, maupun sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
“Terlebih lagi, total produksi perkebunan kelapa sawit di Kalsel mencapai kurang lebih 1,1 ton CPO (Crude Palm Oil),” kataya.
Begitupun dengan jumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalsel, lanjut Suparmi, ada sebanyak 97 perusahaan dengan jumlah pabrik CPO dan 39 pabrik kelapa sawit.
“Dengan jumlah itu, perkebunan kelapa sawit di Kalsel, mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 71.066 orang,” ujar Suparmi.
Namun demikian, sambung Suparmi, ada beberapa catatan terkait pembangunan sektor perkebunan, khususnya perkebunan kelapa sawit. Seperti masih belum tersedianya satu data.
“Padahal sebenarnya, kita sudah memiliki Instruksi Presiden No: 6/2019 tentang Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan,” imbuhnya.
Karena itu, menurut Suparmi, Pemprov Kalsel telah melakukan berbagai upaya mengoptimalisasi perkebunan kelapa sawit. Salah satunya, meningkatkaan produksi dan produktivitas melalui Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Target PSR di Kalsel dari 2018-2020 seluas 2.800 hektare.
“Juga meningkatkan kapasitas lembaga petani kelapa sawit, meningkatkan sarana dan prasarana melalui pemberian bantuan jalan kebun, jembatan kebun, saprodi, mesin pertanian, alat transpotasi melalui dana BPDPKS, serta dukungan dana APBN dan APBD pemprov maupun pemko/pemkab,” tuturnya.
Suparmi tak menampik, perkebunan merupakan subsektor pertanian yang dapat bertahan dimasa pandemi ini. Bahkan komoditas kelapa sawit merupakan sektor tangguh yang mampu menjaga stabilitas ekonomi.
“Oleh sebab itu kita dorong petani kelapa sawit untuk membangun kemitraan dengan industri. Kita berdayakan dan sejahterakan rakyat dengan perkebunan,” pungkas Suparmi. (oie/foto: olivia)