PELAIHARI, banuapost.co.id– Pedagang sembako di pasar tradisional Kabupaten Tanah Laut, hingga Selasa (1/3) masih dihadapkan dengan sulitnya mendapatkan minyak goreng (migor). Andaipun ada dipedagang besar atau grosir, mereka diharuskan membeli barang jenis lain.
Misalnya untuk mendapatkan tiga karton migor, pedagang eceran sembako harus membeli satu sak gula pasir. Bisa juga satu karton migor dengan membeli satu dus sabun cuci atau santan kelapa.
Akibat susah mendapatkan migor dan belinya hampir mendekati harga HET, pedagang eceran terpaksa menjualnya seharga Rp 15.000 sampai Rp 16.000 per liter.
Nasrullah, salah seorang pengecer sembako di Pasar Manuntung Berseri, membenarkan saat ini mereka terpaksa membeli migor pada grosir dengan kewajiban membeli barang jenis lain, seperti gula, sabun dan santan untuk menadapatkan migor.
“Terpaksa kami membeli pada grosir dengan barang jenis lain jika ingin mendapatkan migor,” katanya.
Hal yang sama juga diakui Anisa, pedagang eceran sembako lainnya, Dia terpaksa menjual migor tidak sesuai HET, selain harganya dari grosir sudah mentok dengan harga HET, juga harus mengambil barang jenis lain.
“Terakhir saya membeli dua karton minyak goreng dan sebagai pendampingnya santan kelapa,” jelas Anisa.
Belum normalnya distribusi migor ini juga terjadi pada gerai-gerai mini market modern, baik yang berada di Banjarmasin sampai ke Tanah Laut. Minyak goreng di gerai seperti Alfamart dan Indomaret, datangnya dalam jumlah terbatas. Sehingga tidak bertahan lama dipajangan langsung diserbu pembeli.
Yulia, seorang karyawan mini market di Pelaihari mengatakan, saat ini migor yang datang sangat terbatas paling banyak tiga karton (dus). Minyak yang datang pun bukan yang kualitas baik. Bimoli dan Fortuna masih belum masuk.
“Barangnya datang sangat terbatas dan bukan jenis migor yang premium,” jelasnya.
Selain mendapatkan barang dari grosir pedagang eceran di Tanah Laut tidak jarang pergi ke Banjarmasin untuk membeli migor. Namun mereka juga kesulitan, karena harga di took-toko di Banjarmasin sudah cukup tinggi. (zkl/foto: zul yunus)