MUARA TEWEH, banuapost,net–
Pembahasan Raperda Perubahan Kedua atas Perda No 9/2011, Senin (26/8), diwarnai
‘sentilan’ anggota DPRD Barito Utara terhadap mitranya, eksekutif. Karena
banyak pejabat, termasuk Sekda setempat hanya mengirim perwakilan.
Anggota DPRD Barito Utara, H Tajeri, bersuara nyaring
meminta pejabat terkait hadir saat pembahasan raperda. Bukan mengirim pejabat
yang mewakili.
“Penjadwalan kegiatan DPRD juga dihadiri eksekutif.
Jangan sampai yang hadir di sini pejabat yang mewakili. Ini semua diwakili.
Kalau itu dari perusahaan, sudah saya suruh pulang,” ujar Tajeri dengan nada
tinggi.
Menurut Tajeri, selaku anggota DPRD dirinya tidak
menganggap rendah pejabat yang mewakili. Tetapi pejabat terkait mesti hadir,
karena pembahasan ini menyangkut pengambilan keputusan.
“Pejabat yang hadir semestinya pengambil keputusan,
karena pejabat yang mewakili tidak bisa langsung mengambil keputusan. Harus
melaporkan lagi kepada atasannya,” jelas Tajeri.
Sementara anggota dewan lainnya, H Asran, mengaku
sependapat dengan Tajeri. Karena berbagai hal penting dalam pembahasan raperda,
membutuhkan pejabat pengambil keputusan.
“Sehingga perda bisa diterapkan. Misalnya, masalah Perda
Sarang Burung Walet, sampai saat ini belum ada realisasi di lapangan,” katanya.
Sementara Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Sekda Barut,
Drs H Masdulhaq, menjelaskan, Sekda Jainal Abidin tak dapat hadir karena
menerima tamu dari luar daerah.
Begitu pula beberapa kepala dinas dan kabag hokum, sedang
urusan dinas di luar daerah. “Kita serahkan kepada pimpinan rapat, apakah
pembahasan raperda ini bisa dilanjutkan atau tidak,” imbuh Masdulhaq.
Ketua Sementara DPRD Barut, Hj Mery Rukaini, menetapkan
rapat pembahasan Raperda Perubahan Kedua atas Perda No 9/2011 tentang Retibusi
Jasa Usaha, tetap dilanjutkan dengan materi pembahasan retribusi rumah potong
hewan.
“Kehadiran pejabat terkait sangat penting, sehingga nanti
bisa jelas dianggarkan dalam APBD Murni apa saja kebutuhan biaya yang
menyangkut perda itu nanti. Tak ada alasan pejabat terkait tidak tahu,” kata Hj
Mery. (arh/foto: ist)
