BANJARMASIN, banuapost.co.id– Telah menjadi fenomena di dunia saat ini, literasi digital anak-anak muda masih rendah. Bahkan termasuk anak-anak muda di negara maju, seperti Amerika.
Hal tersebut dikemukakan Public Affairs Officer US Consulate General Surabaya, Angie Mizeur, saat menjadi pembicara pada pembukaan kegiatan penguatan kecakapan digital untuk kaum muda Indonesia Timur di Provinsi Bali, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan, akhir pekan tadi.
“Apa yang saya sampaikan tersebut, mengutip hasil riset Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) yang mana disebutkan, anak-anak masih sulit membedakan informasi yang benar dan disinformasi,” tandasnya.
Kegiatan penguatan kecakapan digital untuk kaum muda Indonesia Timur tersebut, diselenggarakan Japelidi bekerja sama dengan US Consulate General Surabaya yang akan berlangsung selama 6 bulan, mulai 15 September hingga 28 Februari 2022.
Sementara, perwakilan Kementrian KPPA, I Gusti Agung Putri Astrid Kartika, yang saat itu juga menjadi pembicara mengatakan, anak muda seringkali lupa dengan apa yang dimiliki oleh daerah.
“Anak muda seringkali melihat keluar (budaya luar) dan cenderung ingin meniru budaya tersebut. Sehingga mereka seringkali terjebak informasi palsu,” katanya.
Padahal, sambung I Gusti Agung Putri, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa dan justru itu yang harus digali untuk disebarluaskan.
Pembicara lain, Tenaga Ahli Menteri Kominfo, Devie Rahmawati mengatakan, negara terus memacu peningkatan pemerataan infrastuktur digital berupa “jalan tol” sinyal yang dipercepat 10 tahun dari 2032 menjadi 2022, sudah akan terwujud.
“Ketika “digital divide” selesai dengan pembangunan BTS, cyber optic dan sebagainya, maka tantangan berikutnya adalah “man-divide” dari aspek literasi digital,” ucapnya.
Karena itulah, sambung Devie, pemerintah mendukung penuh program Japelidi di Indonesia Timur yang dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas SDM di era digital.
“Japelidi juga telah banyak membantu pemerintah, khususnya menyusun bukan hanya materi modul, tetapi juga aktif melakukan sosialiasi dan edukasi ke akar rumput, membekali publik dengan materi-materi dasar literasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, Japelidi merupakan salah satu ekosistem yang paripurna dari kolaborasi dan kolabor-aksi seluruh elemen masyarakat dalam program literasi digital.
“Anak muda diuntungkan dengan kreatifitasan mereka dan juga aksi movement yang sering mereka lakukan. Program ini diharapkan mampu menjadi program yang ramah dengan anak muda,” harap Devie. (rus/foto: ist)