PULANG PISAU, banuapost.co.id– Meski mendapat uang pensiun tiap bulan atas pengabdiannya selama berprofesi sebagai seorang militer, rupanya tak membuat hanya ongkang-ongkang kaki dan santai menjalani hari tua.
Sebaliknya memilih pekerjaan baru jauh lebih sulit, jadi petani. Pasalnya pekerjaan yang dilakoni, selain harus berpanas-panas di bawah terik matahari, juga membutuhan kesabaran dan ketelatenan agar hasilnya sesuai harapan.
Begitulah yang dilakoni Nari, seorang purnawirawan TNI sejak 1 Januari tahun lalu, yang memilih berprofesi sebagai petani padi di Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau.
Sebelum menjadi seorang TNI, dia dibesarkan dari keluarga tani. Jadi jangan heran, semasa kecil menghabiskan waktu membantu orangtuanya di sawah. Meski demikian, tidak menyurutkan tekadnya menjadi anggota TNI.
“35 tahun lalu, memang orangtua saya transmigrasi. 1982 sampai 1987, saya lulus sekolah dan daftar ABRI,” tutur Nari.
Di awal menjadi prajurit TNI, sambung Nari, mengikuti pendidikan di Gunung Kupang, Banjarbaru. Selesai pendidikan, terpilih dan diambil di Kostrad Cilodong 4 Divisi 1 bersama 20 lainnya, di tempatkan di pasukan 515 Kostrad Kecamatan Tanggul, Jember, Jawa Timur selama 26 tahun.
Medio Juli 2012, dipindah ke Kodam V/Brawijaya dengan penempatan Kodim 0808/Blitar, hingga purna tugas dan pulang ke kampung halaman.
“Kenapa saya setelah purna memilih menjadi petani?. Karena latar belakang keluarga saya petani, dari orang transmigrasi,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Nari, dengan jadi petani hidup bisa bebas bisa wira wiri kemana saja. Karena petani tidak terikat waktunya dalam pekerjaan. (rie/foto: arief)