BATULICIN, banuapost.co.id– Mengunjungi Desa Sardangan di Kecamatan Kusan Tengah, Kabupaten Tanah Bumbu, ada hal yang mengagumkan. Betapa tidak, desa yang berada di tepian Sungai Kusan ini memiliki keindahan dan kekhasan sosial budaya memikat siapapun yang berkunjung.
Sapaan ramah dan sikap terbuka warga terhadap pengunjung menjadi pemikat awal ketika banuapost .co.id dan tim pegiat gambar, berkunjung ke desa yang dihuni 535 jiwa ini.
Dengan jumlah rumah hanya 106 unit, desa ini bisa dibilang desa kecil. Namun di balik itu, desa ini memiliki potensi yang luar biasa. Terutama pada sektor pariwisata, kerajinan dan perikanan.
Ada beberapa hal unik yang dapat dijumpai ketika berkunjung ke Sardangan. Salah satunya, kegiatan sosial- ekonomi masyarakat setempat masih bertumpu ke sungai. Sebagian besar masyarakat masih menggantungkan hidup. Ini tentu berbeda dengan beberapa desa di tepian Sungai Kusan lainnya, yang sudah mulai bergeser kulturnya.
“Kita bisa lihat aktivitas warganya yang sebagian besar kegiatannya masih dilakukan di sungai, atau di tepian sungai. Rumah rumah warga di sini semuanya masih menghadap ke sungai. Ini berbeda dengan rumah-rumah warga di desa lain yang kebanyakan pembangunannya kini justru membelakangi sungai,“ ujar Argu Sukriawan, konten kreator asal Tanah Bumbu.
Deretan rumah yang membentuk perkampungan tepi sungai ini, tentu membuat pemandangan yang indah untuk diamati. Konten kreator seperti Argu Sukriawan, tentu sangat suka menjumpai kekhasan ini.
“Bagi insan kreatif, ini adalah surga. Karena dengan mengunjungi tempat ini, kita akan bisa mendapatkan banyak konten yang menarik dan unik. Konten tersebut jarang ditemui di tempat lain. Bagi fotografer misalnya, ia dapat memotret aktivitas warga di tepian sungai,” ujar Argu yang juga merupakan anggota komunitas gambar.
Hilir mudik perahu klotok berukuran kecil yang menjadi transportasi unggulan warga, riuh tak pernah sepi. Anak-anak yang bermain dan berenang di sungai, atau yang bermain layang-layang di atas jembatan dan titian, menjadi pemandangan khas desa.
Selain aktivitas nelayan air tawar, di Sardangan juga dijumpai banyak pengrajin ayaman purun. Purun tersebut diolah berbagai jenis produk yang menjadi unggulan desa. Produk tersebut lalu dipasarkan ke beberapa daerah di Tanah Bumbu. Tak sampai di situ, produk kerajinan purun Sardangan juga melayani pemesanan dari daerah luar. Sungguh sebuah potensi UMKM yang dapat dikembangkan.
Kepala desa Sardangan, Andi Tandra mengatakan, Sardangan merupakan perkampungan yang peradapannya cukup tua. Dahulu sebelum ada akses jalan darat, desa ini hanya bisa dilalui melalui jalur sungai dengan menggunakan perahu.
Andi Tandra lantas mengatakan, desa ini memang sedang dipersiapkan menjadi desa wisata. Bahkan iya mengaku telah menyapkan lahan seluas 160 hektare tanah untuk di kelola menjadi areal wisata pemancingan.
“Sardangan memang sudah menjadi surganya para pemancing sejak dahulu. Dalam setahun, ribuan orang datang ke desa ini untuk memancing. Bahkan kami rutin melakukan kegiatan lomba mancing dengan skala yang cukup besar,” ujar kepala desa yang telah 8 tahun menjabat.
Untuk mewujudkan Sardangan menjadi desa wisata, Andi Tandra mengaku telah membangun komunikasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta. Bahkan iya mengaku telah menyiapkan sejumlah program sebagai konsep pembangunan desa wisata. Sejumlah sarana penunjuang kepariwisataan, juga telah dirancang.
“Karena dua tahun terahir ini sedang pandemi, maka progresnya tidak bisa berjalan sesuai harapan. Namun kami optimis bisa mewujudkan mimpi itu. Kami antusias karena kami yakin, melalui pengembangan sektor wisata, kesejahteraan masyarakat akan meningkat,” ujarnya.
Namun demikian, Andi Tandra juga tidak menampik daya dukung desanya masih terbatas. Terutama pada bidang inprastruktur. Ia berharap program desa wisata yang dicanangkannya mendapat atensi dari pihak-pihak terkait.
“Kami sudah menyiapkan lahan selebar 12 meter untuk dibanguni jalan utama menuju desa ini, semoga secepatnya dapat dapat diwujudkan. Karena ini komponen vital. Sehingga di tahun mendatang , pencanangan desa wisata di sardangan sudah benar-benar dapat terealisasi,” tandasnya.
Soal pemberdayaan masyarakat desa wisata, Andi Tandra berharap ada lembaga-lembaga soal masyarakat yang bisa menjadi mentor dan pendamping . “Ya seperti komunitas gambar, bisa mengajari anggota pokdarwis tentang manejemen branding digital misalnya,” ujarnya menutup perbincangan. (uza/foto: bzak)