SAMPIT, banuapost.co.id
– Harga buah kelapa di tiga kecamatan Kabupaten Kotim, yakni, Mentaya Hilir Selatan
(MHS), Pulau Hanaut dan Teluk Sampit, mengalami penurunan akibat lemahnya
permintaan pasar.
Terhitung sejak 6
bulan terakhir ini, harganya anjlok. Sementara pemilik, hanya mendapat upah perawatan kebun. Sebelumnya,
harga buah yang kwalitas bagus Rp 2.500 – 2.800 per biji. Sekarang Rp 1.400,
itupun sudah sortiran.
Kondisi demikian diakui Anang, warga Desa Basawang, Kecamatan Teluk Sampit, pengepul buah nyiur untuk dijual lagi kepada pelanggan yang datang dari Pulau Jawa.
Turunya harga pasar
ini, akibat pengepul besar seperti di Surabaya, Semarang, Bekasi dan Jakarta,
mengurangi permintaan. Imbasnya juga terjadi di pasaran yang ada di kecamatan tersebut.
“Kita pun turut
menurunkan harga buah kelapa ke petani. Kita menerima dari petani yang sudah disortir
seharga Rp 1.400 per biji,” ujar Anang kepada banuapost.co.id-, Selasa (27/8).
Penampungan buah
kelapa itu sendiri, lanjut Anang, atas permintaan pebisnis yang langsung
membawa truk dan container.
“Kalau truk puso
muatnya 22 ribu biji. Kalau jenis truk kontainer muatan sekitar 16 ribu biji.
Kita jual naik ke atas truk seharga Rp 1.600 per biji,” jelasnya.
Sekarang ini, menurut
Anang, permintaan dari daerah seperti Banjarmasin maupun dari Surabaya,
Semarang dan Jakarta serta kota besar
sekitarnya, tidak seramai beberapa bulan lalu.
“Akibatnya, harga
pun berimbas ikut turun,” imbuhnya.
Sementara menurut Utuh,
petani kelapa khusus daerah Selatan Kotim, musim panen yang terbilang baik
untuk dipetik, jeda 2,5 – 3 bulan sekali.
Kalau tidak demikian,
khawatir buah kualitasnya kurang bagus. Karena buah akan muncul tunas, sehingga
harganya menjadi turun.
Sekarang, harga jual
ke pengepul lokalan bersortir kualitas A maupun B, rata-rata harga Rp 1.100 per
biji. Potong upah memetik dan upah mengupas kulit Rp 500 per biji dan sisa
kepemilik kebun Rp 600.
“Kondisi demikian, cuma
untuk menutupi perawatan kebun saja,” ujar Utuh. (urd/foto: ist)
