PELAIHARI, banuapost.co. id– Dua buah rumahdi RT 12 Teluk Pulantan, Desa Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut (Tala), luluh lantak setelah diamuk jago merah, Kamis (21/12). Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu.
Rumah yang terbakar di Gang Karang Jawa itu dihuni dua bersaudara, Rustopo dan Sanuri. Kebakaran terjadi sekitar pukul 01.30 wita.
Berdasarkan informasi di lapangan, api berkobar dengan begitu cepat, dari rumah yang dihuni Sanuri kemudian merembet ke rumah Rustopo. Saat kebakaran terjadi Sanuri bersama isteri dan dua anaknya sedang berada di warung tempatnya berjualan.
Sebelum petugas pemadam kebakaran dan relawan berdatangan ke lokasi, warga berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya, sampai akhirnya pemadam tiba di lokasi kejadian dan berhasil memblokade api agar tidak merembet ke rumah lain.
Menurut Rustopo, saat api berkobar di rumah adiknya itu ia masih tertidur lelap bersama isterinya, untung ia mencium bau asap dan rasa panas di dalam kamarnya hingga bergegas ke luar rumah.
“Saat di luar rumah saya melihat rumah adik saya sudah terbakar di bagian tengahnya, saya dan isteri hanya dapat menyelamatkan sepeda motor dan grobak pentol,” kata Rustopo saat ditemui di lokasi kejadian Kamis (21/12).
Rustopo mengaku tidak dapat menyelamatkan beberapa peralatan rumah tangga seperti lemari es dua unit, televise dua unit, karena kobaran api begitu hebat.
“Jangankan memikirkan menyelamatkan harta benda, menyelamatkan diri aja sudah syukur,” kata Rustopo lagi sambil bekerja membuat kamar sementara di bekas rumahnya yang terbakar.
H Matohar, kakak tertua korban kebakaran mengatakan terjaga dari tidur setelah mendengar teriakan sang adik Rustopo. Hanya saja saat itu ia sempat mendengar teriakan maling.
“Pada saat terjaga saya sempat mendengar teriakan maling, saya pun ke luar rumah, ternyata rumah adik saya Sanuri sudah terbakar hebat,” kata Matohar yang biasa dipanggil warga sekitar H Amat Bakso.
Pemilik dua warung bakso ini berterima kasih kepada pemadam kebakaran dan relawan yang cepat berdatangan ke lokasi kejadian. Kalau terlambat, rumahnya yang berdekatan dengan sang adik bisa saja ikut terbakar.
“Kaca-kaca pintu rumah saya pecah akibat kepanasan, untungnya api tidak sempat membakar dinding,” terang H Matohar.
Sanuri sendiri saat kebakaran tidur di warung makan tempat usahanya, biasanya Sanuri dan istrinya beserta dua anaknya kembali ke rumah pada pagi hari, dan kembali ke warung saat sore untuk membuka warung.
“Saya dan isteri waktu kejadian tidur di warung bersama anak-anak, biasanya pagi kembali ke rumah,” kata Sanuri.
Akibat kebakaran tersebut kerugian kakak beradik ditaksir sampai 100 juta lebih, karena selain bangunan yang terbakar, beberapa perabot rumah tangga juga hangus, serta satu unit motor milik Sanuri. (zkl/foto: ist)