Pasca reformasi, bahkan hingga sekarang ini, pemuda sebagai agen perubahan, seperti tenggelam dalam huruk pikuknya percaturan politik nasional. Karena yang berumur masih egois dengan nikmatnya kekuasaan. atau sebaliknya memang yang muda pesimis akibat tidak adanya tempat untuk berbuat.
Padahal jika mencermati perjalanan sejarah bangsa, orang-orang mudalah yang banyak memiliki andil. Bahkan hingga berkorban masuk penjara segala. Bukan masuk bui karena kasus korupsi.
Seperti misalnya Soekarno. Dalam usia muda belia, dia telah menunjukkan jiwa kepemimpinannya setelah mendirikan Partai Nasional Indonesia dan Partindo.
Begitupun dengan Bung Hatta, menjadi sangat menggigit di era menjelang kemerdekaan. Selain tulisan-tulisannya yang tajam di media-media, juga karena mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI).
Peristiwa itu sudah berlalu puluhan tahun silam. Sekarang kita merindukan sosok-sosok muda ikut berjuang bersama partai. Ikut mempengaruhi sikap-sikap partai, kemudian berbuat sesuatu yang besar untuk negeri ini.
Anak muda memang menjadi warning bagi generasi-generasi di atasnya untuk terus beradaptasi dengan zaman. Untuk terus mengingat, regenerasi adalah keniscayaan. Karena untuk terus merengkuh kekuasaan yang berlebihan, tentunya sangat buruk bagi demokrasi itu sendiri.
Sebaliknya jika anak muda lebih mengedepankan ego skeptisismenya terhadap partai politik di satu sisi, tapi sangat berpreferensi terhadap demokrasi di sisi lain, maka proses politik akan pindah ke arena yang lain, seperti arena sosial media dan sejenisnya.
Anak muda akan terjauhkan dari proses institusionalisasi politik demokratis. Bakat-bakat politik akan bertebaran secara cuma-cuma di tempat yang tak semestinya, termasuk di jalanan.
Ikut berjuang di partai politik adalah ikut beraksi. Ikut ambil bagian dan ikut menentukan sikap di dalam gelora perubahan, tentunya dengan cara-cara yang sesuai, termasuk menggunakan sosial media.
Boleh jadi pada awalnya mendapat banyak tantangan, halangan, ataupun godaan, tapi itulah bagian dari perjuangan. Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir dan banyak lagi, berani membayarnya dengan penjara dan diasingkan ke berbagai pelosok.
Jika konsistensi untuk melakukan perubahan memang teruji dan tak perlu diragukan lagi, maka hasilnya lambat laun akan terlihat juga. Fakta historisnya, waktu terus berputar, generasi terus berganti, isu baru dan lama terus muncul dan tenggelam, dan waktu itu akan datang.
Jika masa depan demokrasi ada di tangan anak muda, maka masa depan partai pun demikian. Maka tak ada salahnya partai-partai merangkul generasi-generasi baru di satu sisi, dan di sisi lain tak ada salahnya pula generasi-generasi baru mulai melirik partai sebagai wadah perjuangan untuk memperbaiki demokrasi dan membenahi segala sesuatu yang dibutuhkan di negeri ini.
Negeri ini tak perlu lagi menyaksikan titik krisis pertentangan orde dan generasi dalam gerak sejarahnya. Ketika generasi lama dan baru bisa berkomunikasi dengan baik untuk mempersiapkan estafet-estafet kepemimpinan politik nasional, di saat itulah perubahan tak perlu memakan banyak korban. (yebe/aktivis media)