Menginjak usia ke-74, 17 Agustus
2019, negeri ini kembali merayakan hari kemerdekaan. Seperti biasa, perayaan
akan gegap gempita dengan beragam acara. Sehingga
mengingatkan
kembali pada keberanian serta ketulusan para pejuang kemerdekaan.
Berani
dan tulus, dua kosa kata itulah yang jadi
modal untuk membebaskan bangsa dari cengkraman
penjajah Belanda. Dengan
modal itu pula, bangsa ini pada 17 Agustus 1945 bebas dari penindasan
yang sudah berlangsung sekitar 3,5
abad.
Pejuang 45 telah berhasil membangun
kemandirian bangsa, tepatnya pada 1945, hingga mengatmosfer dalam wujud
kegembiraan tak terkira.
Untuk konteks kekinian, tidaklah heran jika umbul-umbul,
gapura gang, pekarangan rumah dan halaman kantor, berhias warna Merah-Putih. Namun kita seolah lupa kalau roda
bangsa ini tertatih mewujudkan mukadimah UUD
45, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ketidakmampuan menangkap intisari
peringatan hari kemerdekaan untuk menciptakan dan membangun kemandirian bangsa, roda bangsa pun tak akan menggelinding.
Padahal
bangsa ini telah merdeka selama 74
tahun. Namun nihil dari semangat juang. Akibatnya, negara-bangsa belum dapat bertransformasi ke
arah lebih baik.
Lantas bagaimana seharusnya arah kegiatan
perayaan hari kemerdekaan agar lebih bermakna?
Semangat agustusan semestinya diinternalisasi dan
dijabarkan pada dunia riil masyarakat, untuk menyibakkan tabir krisis di tubuh
NKRI.
Prosesi agustusan adalah satu perangkat yang
tepat dan akurat untuk membenahi mentalitas tidak kreatif, tidak inovatif, dan
tidak mandirinya anak bangsa. Sebab ketika bangsa dipenuhi
orang seperti
itu, jangan harap kemajuan akan menghampiri.
Bahkan ketika generasi muda bangsa ini tidak
dapat menangkap semangat juang perayaan 17 Agustus, yakinlah ke depan nasib bangsa tidak
bakal beranjak lebih baik.
Oleh karena itu, program kerja organisasi kepemudaan di NKRI, mesti fokus memoles
generasi muda dengan keteguhan dan ketulusan hati. Sehingga dapat mentransformasi pemuda
menjadi para pemegang kebijakan yang jujur dan berani menyuarakan aspirasi rakyat di masa mendatang.
Tidak
arif rasanya kalau pemuda hanya bisa meneruskan estafet pejajahan generasi tua
dengan meminjam utang kembali, ketika
memegang kendali di lembaga eksekutif kelak.
Kalau bukan di pundak pemuda tampuk kepemimpinan
masa depan terletak, lantas
di pundak siapa lagi? Dengan demikian, pribadi pemuda juga semestinya
menggambarkan sosok kesatria
berkesadaran tinggi,
hingga piawai menghadapi neokolonialisme bangsa luar.
Dengan inilah perayaan hari kemerdekaan
mestinya jadi momen tepat untuk membangun kemandirian, keteguhan jiwa, dan
ketulusan hati demi terciptanya kemerdekaan bangsa.
Bukankah kemandirian, keteguhan jiwa dan
ketulusan hati para pejuang kemerdekaan tahun 45-an adalah modal pertama untuk
melawan penjajahan dan penindasan bangsa luar?
Karena itu, model
perjuangan sekarang ini pun tidak hanya dengan adu fisik. Melainkan memperjuangkan
hak-hak sosial, ekonomi, dan budaya rakyat,
hingga dapat diraih kembali. Pertanyaannya, bisakah para pemuda menangkap
semangat juang 45 di 17
Agustus kali ini? Wallahu A’lam. (yebe/aktivis media)
